Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Mugiwara di Bawah Sang Saka

×

Mugiwara di Bawah Sang Saka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Hari-hari menjelang merdeka
Berkibaran Merah Putih menghiasi cakrawala
Mengingatkan kami pada pahlawan bangsa
Yang tumpah darahnya merah menyala

Namun ternyata, “Merdeka” masih fatamorgana
Masih dijajah, bahkan oleh penguasanya
Karena itulah, bekibar juga di bawahnya
Bendera bajak laut Mugiwara
Bentuk aspirasi kami, yang kian sengsara

Example 300x600

Bapak Ibu yang kami hormati
Apa yang sebenarnya kalian takuti?
Itu hanyalah bendera dari cerita fiksi
Hanyalah anime tontonan bayi
Lantas mengapa kau kirimkan polisi?
Padahal Merah Putih masih yang tertinggi

Tidakkah bapak ibu mengurusi,
sebuah keadilan yang justru mencekik kami?
Tidakkah kalian menyadari,
bahwa kalianlah penghianat Ibu Pertiwi?
Kami mohon, cukuplah pada detik ini

Marilah cikal cikal muda
Bersatu menyembuhkan bangsa
Mendobrak pintu merdeka
Dalam artian yang sesungguhnya

Oleh: Maghfirotunni’mah

Santri-Murid Kelas XII Pesantren-Sekolah Alam Planet Nufo

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…