Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Sukses Butuh Proses

×

Sukses Butuh Proses

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Siti Aulia Nailal Hidayah Ahmad, Santri-Murid Planet Nufo

Pondasi itu, awal dari langkahku
Seperti indikasi yang diutarakan Tuhan
Belajar dan menambah ilmu
Kian sendu merebak di atma

Example 300x600

Banyak waktuku tereliminasi sia karena menunggu
Tidak masalah, jika ini bisa ditakma kembali
Buanglah sentimen yang salah itu
Detik tak menghilang rakus jika kita berusaha

Gunakan organisasi sebagai wadah berproses
Itu akan berkembang baik di penerapan org yang benar
Sangat penat, tapi ini proses
Sudah komitmenku untuk terus memperbaiki diri
Walaupun banyak orang menyinggung kesana kemari

Jika pemanah tidak berkisar memanah
Bagaimana pemanah bisa mendapat mangsa?
Waktu berjalan bagai sayatan kilat
Belaka, penat sudah ku pendam dalam dalam

Lihat, jumantarapun menyaksikan
Bagaimana aku bisa mewariskan tanggung jawab?
Jika keinginan saja tidak disandingkan dengan niat
Bukan mie instan yang siap saji,
melainkan usaha yang prosesnya tidak sebentar
paksa dan hapus ke munafikan pada diri sendiri

Jika cengkeraman kegagalan terus gelap menghantui
Patutnya kau berlari dari serejang bayang itu
Memang tidak mudah, namun kau bisa
Semua akan terbukti jika kau berupaya

Sendu?
Jika kamu dapat mempredisposisi kan ini menjadi lebih baik
Tidak kalah dengan nestapa karam itu,
Ia menyusun mentalku untuk belajar menjadi seorang pemimpin

“Tidak kita rapuh karena kesedihan, kegagalan dan sebagainya.
Namun, kita dengan itu bisa mengemuka lebih indah kedepannya.
Keburukan tidak selalu buruk selamanya,
Semua bisa diubah kapan saja.
Seperti air laut yang berubah-ubah warna,
Ia akan coklat pekat ketika arus laut sedang pasang.
Ketika tenang, ia akan normal menjadi biru kehijauan.
Seperti manusia, tidak akan menjadi buruk selamanya,
Selama ia mau mencoba memperbaiki dirinya”

Akan begitu suntuk koreksi di awal mula
semua bisa diubah menjadi jumawa yang jawara
Bersedih dan bersusah untuk sementara
Masa depan hanya menerima jatah dari sebuah jerih payah

Jangan mengeluh pada tuhan bahwa kita gagal
Tapi, bilang pada kegagalan bahwa kita punya tuhan
Semua kita atur semaksimal mungkin
jangan dengan sewajarnya, namun dengan ugal-ugalan

Tidak ada yang instan di dunia untuk menuju sukses
Jadi bertempurlah selayaknya panglima perang
Yang memperjuangkan apa yang ia inginkan
Jangan naif, karena semua di disinggung dengan masa depan

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…