Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Esai

Fandom Sebagai Tempat “Pulang”: Ruang Imajinasi di Tengah Tuntutan Kehidupan Dewasa

×

Fandom Sebagai Tempat “Pulang”: Ruang Imajinasi di Tengah Tuntutan Kehidupan Dewasa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Shafira M.P. Juanda,

Ada masa ketika tumbuh dewasa terasa seperti daftar panjang tentang hal-hal yang harus ditinggalkan. Mainan dianggap kekanak-kanakan. Terlalu antusias terhadap cerita fiksi dianggap tidak realistis. Menghabiskan waktu membicarakan karakter favorit sering dipandang sebagai sesuatu yang seharusnya sudah dilewati seiring bertambahnya usia. Perlahan-lahan, menjadi dewasa sering diasosiasikan dengan menjadi lebih serius, lebih praktis, dan lebih sibuk mengejar hal-hal yang dianggap “berguna”.

Example 300x600

Akan tetapi pada kenyataannya, banyak anak muda hari ini justru tetap membawa dunia imajinasi mereka hingga dewasa. Mereka masih mengikuti serial favorit, mengoleksi merchandise, membaca teori penggemar hingga larut malam, atau merasa bahagia hanya karena karakter favorit mereka akhirnya muncul kembali setelah sekian lama. Dari luar, hal-hal seperti ini mungkin tampak sepele. Tetapi bagi banyak orang, fandom bukan hanya hiburan. Ia adalah ruang kecil yang menjaga bagian diri mereka agar tidak sepenuhnya menjadi dingin dan mekanis.

Contoh nyatanya adalah saya sendiri. Saat ini saya sedang menempuh semester dua di Universitas Airlangga. Kehidupan sebagai mahasiswa ternyata tidak semudah yang dulu saya bayangkan ketika masih SMA. Materi perkuliahan datang hampir tanpa jeda, praktikum menuntut ketelitian dan waktu yang panjang, serta ujian terasa memiliki tekanan yang jauh berbeda dibanding masa sekolah dulu. Ada hari-hari ketika saya merasa sangat lelah, kehilangan energi, bahkan mengalami burn-out karena ritme kehidupan yang terus berjalan cepat.

Di tengah keadaan seperti itu, saya menyadari bahwa saya masih memiliki satu hal yang sejak kecil selalu saya bawa, yaitu imajinasi. Saya selalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan cerita fiksi, dunia imajinatif, bahkan musik. Tanpa sadar, kesukaan-kesukaan itu kemudian menjadi semacam “rumah online”, tempat saya beristirahat sejenak dari kehidupan kuliah yang melelahkan. Mulai dari One Direction, anime Attack on Titan dan My Hero Academia, hingga trilogi film seperti Transformers, The Hobbit, dan The Lord of the Rings, semuanya menjadi ruang kecil yang membantu saya mengisi ulang energi ketika merasa terlalu penat dengan dunia nyata.

Mungkin bagi sebagian orang, hal-hal seperti itu terdengar kekanak-kanakan. Ada anggapan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin ia harus meninggalkan dunia imajinasi dan fokus sepenuhnya pada realitas. Namun, saya justru merasa sebaliknya. Dari pengalaman pribadi ini, saya belajar bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk merasa antusias terhadap sesuatu, sekecil apa pun itu. Tidak semua hal dalam hidup harus selalu berkaitan dengan produktivitas, pencapaian, atau target masa depan.

Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai komunitas fandom di Indonesia. Penelitian mengenai fandom K-Pop menunjukkan bahwa budaya fandom menciptakan “ruang untuk solidaritas dan interaksi sosial” bagi para penggemarnya (DIALEKTIKA, 2024). Kehadiran komunitas seperti ini membuat banyak anak muda merasa memiliki tempat untuk berbagi antusiasme tanpa takut dianggap berlebihan. Dalam komunitas fandom, kesenangan terhadap suatu cerita atau idola tidak dipandang sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi sebagai hal yang menyatukan.

Selain itu, keterlibatan dalam fandom sering kali membangun rasa memiliki yang kuat terhadap komunitas. Penelitian lain mengenai identitas kolektif penggemar menjelaskan bahwa simbol, bahasa khas, dan aktivitas bersama dalam fandom menjadi “penanda keanggotaan yang memperkuat rasa memiliki” (Paradigma, 2025). Hal-hal kecil seperti istilah khusus, candaan internal (inside jokes), atau tradisi komunitas mungkin tampak tidak penting bagi orang luar, tetapi justru menjadi bagian yang membuat banyak anak muda merasa diterima.

Di sisi lain, fandom juga menunjukkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup hanya dengan rutinitas dan target. Kita tetap membutuhkan ruang untuk bermain, membayangkan, dan merasa kagum terhadap sesuatu. Bahkan penggunaan istilah-istilah khas fandom di media sosial disebut sebagai bentuk identitas sosial yang menciptakan “rasa memiliki, solidaritas, dan eksklusivitas kelompok” (METAFORA, 2025). Ini menunjukkan bahwa fandom bukan sekadar aktivitas konsumsi hiburan, tetapi juga bentuk kebutuhan sosial dan emosional.

Tentu saja, fandom bukan ruang yang sempurna. Konflik antar-penggemar, fanatisme berlebihan, atau kecenderungan menjadikan fandom sebagai satu-satunya sumber validasi diri tetap ada. Terlepas dari semua itu, keberadaan fandom memperlihatkan sesuatu yang penting tentang generasi muda hari ini; banyak orang berusaha mempertahankan ruang kecil untuk imajinasi di tengah dunia yang semakin menuntut efisiensi dan produktivitas.

Saya merasa bahwa mau sedewasa apa pun seseorang, mau setua apa pun usianya, dan mau se-hectic apa pun kehidupannya, setiap orang tetap berhak memiliki tempat untuk “pulang”. Tempat itu tidak selalu harus berupa lokasi fisik. Kadang, tempat pulang itu berbentuk cerita, lagu, karakter, atau komunitas yang membuat seseorang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Karena itulah saya bersyukur masih memiliki sisi imajinatif dan sisi childish, bukan dalam konotasi negatif, melainkan sebagai kemampuan untuk tetap merasa kagum dan bahagia terhadap hal-hal sederhana. Justru dari situlah saya belajar bahwa kebahagiaan kadang bisa ditemukan dari sesuatu yang terlihat kecil dan tidak penting bagi orang lain.

Pada akhirnya, menjadi dewasa seharusnya bukan tentang membunuh imajinasi. Kedewasaan tidak selalu berarti meninggalkan semua hal yang dulu membuat kita bersemangat. Seseorang tetap bisa bertanggung jawab sambil mencintai cerita fiksi, tetap bisa serius memikirkan masa depan sambil menikmati dunia imajinatif yang ia sukai. Di dunia yang bergerak semakin cepat dan melelahkan, mungkin kemampuan untuk tetap menyimpan sedikit ruang bagi antusiasme dan imajinasi adalah salah satu cara paling manusiawi untuk menjaga diri agar tidak kehilangan cahaya kecil yang dulu kita miliki saat masih anak-anak.

________________________________________

Referensi

• DIALEKTIKA. (2024). Hibriditas Budaya dalam Fandom K-Pop: Konstruksi Identitas Kolektif Penggemar di Era Digital Indonesia.

https://ejournal.uki.ac.id/index.php/dia/article/view/6970

• Paradigma. (2025). Identitas Kolektif dalam Komunitas Penggemar di Era Digital.

https://ejurnal.unima.ac.id/index.php/paradigma/article/view/12606

• METAFORA. (2025). Penggunaan Jargon Sebagai Bentuk Identitas Sosial Komunitas K-Pop. https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/METAFORA/article/view/28224

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *