Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Eid-El Adha: Please Don’t Call!

×

Eid-El Adha: Please Don’t Call!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Iliana SakaLabiru, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Kota Semarang

Aku harap malam ini hujan tidak kembali turun seperti malam-malam sebelumnya.

Example 300x600

Bukan karena aku tidak menyukai dinginnya, bukan karena aku tidak menyukai langit malam yang gelap dengan bintang-bintang yang semakin bersinar. Aku sangat menikmatinya, malah. Tapi karena terkadang, hujan bisa membawa paksa kenangan yang seharusnya sudah lama terkubur. Ia menelan suara tangis dengan bunyi rintiknya. Ia menyamarkan perasaan yang terlalu memalukan untuk kuakui.

Idul Adha sebentar lagi datang.

Dulu, aku selalu menyukai hari-hari menjelangnya. Jalanan yang riuh dengan senyuman, aroma masakan yang menyelinap lembut dari dapur, dan bagaimana manusia-manusia sibuk merayakan kebersamaan dengan orang-orang yang mereka cintai. Tapi kurasa tahun ini akan berbeda. Karena bayang-bayang dirimu seolah mengikutiku sejauh apapun aku berjalan, tak mau membiarkanku melupakanmu begitu saja.

Yang paling menghancurkanku adalah fakta sederhana ini: aku belum bisa menghapus seluruh bagian dirimu yang masih tinggal nyaman dalam pikiranku. Bahwa dalam lubuk sanubariku, aku masih mengharapkan untuk sekadar mendengar suaramu barang sekali saja. Aku masih ingin melihat notifikasi pesanmu muncul tiba-tiba di layar ponselku. Seolah tak pernah ada jarak di antara kita, seolah tak pernah ada masalah, seolah kita tak pernah berubah menjadi dua orang asing yang saling tahu cara melukai hati masing-masing.

Padahal aku tahu. Itu hanya akan menghantuiku lebih dari sebelumnya.

I know, maybe it will hurt me again.

Tolong, jangan hubungi aku lagi.

Lantaran aku mengenal diriku sendiri. Aku tahu bagaimana aku akan terdiam mematung untuk beberapa detik, lalu tetap menjawab telepon itu, dengan tangan yang bergetar atas campuran perasaan yang tak pernah lagi rapi. Jadi jangan. Jangan cari aku hanya karena malam terasa terlalu sunyi untuk dilalui sendiri. Jangan datang padaku hanya karena kau tiba-tiba merindukan seseorang yang dulu selalu ada di sisimu.

Karena aku bukan tempat singgah yang bisa kau hampiri saat hatimu sedang kosong. Aku bukan kenangan yang bisa kau buka kembali saat hidupmu terasa laksana monokrom. Hitam, putih, tanpa warna.

And maybe, maybe it’s all my fault.

Untuk terlalu mudah menganggap perhatian sebagai kepastian. Untuk terlalu mudah percaya bahwa seseorang yang berkata “akan tetap di sini” tidak akan pergi. Sedangkan pada akhirnya, orang yang paling kita cintai, orang yang menemani setiap hari, dapat berubah menjadi seseorang yang terpaksa kita relakan perlahan.

It’s funny, right?

I still remember the way you laughed. I still remember how your voice sounded softer late at night. I still remember how I used to feel, that being loved by you was the safest thing in this world.

Sekarang, aku bahkan takut mendengar suaramu lagi. Karena nyatanya, aku belum benar-benar sembuh. Sebagian dari diriku masih tertinggal di masa lalu, masih duduk melamun di sana, masih berharap semuanya bisa kembali seperti sebelumnya.

Even though we both know, beberapa hal memang ditakdirkan untuk hancur tanpa bisa diperbaiki.

Jadi kalau malam Idul Adha nanti, gema doa mengingatkanmu akan diriku, kalau langit malam membuatmu ingin kembali, please don’t. Jangan beri aku harapan kecil yang kau bahkan tak berniat untuk menjaganya. Jangan buat aku meruntuhkan tembok yang sudah susah payah kubangun, karena aku sedang belajar melepaskanmu. Dan aku hanya khawatir, satu panggilan darimu akan menghancurkan seluruh proses berat itu.

Mungkin aku masih mencintaimu. Mungkin sebagian dari diriku akan tetap begitu. Tapi rasa cinta tidak berarti seseorang harus tinggal untuk selamanya. Kadang cinta juga berarti belajar hidup tanpa mereka, meskipun sisi lain nurani kita tak pernah benar-benar setuju.

Jadi malam ini, di bawah gema takbir dan hamparan langit yang memandang dingin, aku akan mencoba untuk tidak menunggumu lagi.

Dan kamu, tolong jangan hubungi aku apapun yang terjadi.

Sebab jika kamu melakukannya, aku cemas aku masih akan menjawab. Dengan rasa cinta yang sebesar dulu.

Happy Eid-El Adha. Please don’t call.

With all my love,
Sang Biru

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…

Cerpen

Oleh: Rabbani Mrwa Aqsho Majida, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…