Sinopsis
Di tengah hiruk piruk pesta pernikahan, aku, yang kerap dipanggil Ilena mendapati sesuatu yang tak di undang datang membawa arah lain kepadaku. Ruang-ruang asing, pertemuan ganjil, dan waktu yang tak berjalan semestinya. Padahal aku hanya menginginkan keinginan sederhana, tampil menari untuk kakak ku, tapi tak semua panggung menghadirkan sorak sorai.
Oleh: Selviana Safitri
Pada suatu hari, di bulan juli, aku menghadiri pernikahan kakak ku, yang bernama Agara saputra dan kakak iparku Hira asyafara . Aku duduk di tepian tribun aesthetic yang disewa kakaku di desa yang di konsep menyerupai pepohonan rindang. Sebenarnya kak Agara ini sudah lama menikah secara sah dimata hukum, tetapi acara besarnya yang mengundang banyak tamu baru diadakan sekarang.
Dari tribun aku memandangi keduanya di pelaminan, betapa tampan kak Agara dan kak Hira yang tampak ayu nian. Senyumnya manis memancar. Aku sengaja memilih duduk diatas tribun bersama tamu undangan lainnya dibandingkan duduk dibawah tribun bersama keluargaku, karna aku ingin menyaksikan dari atas betapa indahnya momen sakral itu.
“Alhamdulillah, acara kak Agara dan kak Hira berjalan sesuai apa yang mereka impikan selama ini,” gumamku pelan, seolah hanya aku dan angin yang mendengarnya.
Pada pukul dua belas siang para tamu undangan yang ada ditribun dipersilahkan turun kebawah untuk beristirahat dan makan siang terlebih dahulu.
Ibuku menghampiriku ke atas tribun dan menyuruhku untuk cepat bergegas kebawah dan bersiap untuk acara penampilan tariku bersama yang lainnya. Sebelumnya aku memang diminta untuk menampilkan pentas seni berupa tari bersama anak-anak tari dari desa ku yang diundang oleh kakak ku.
“Ilena, ayo, wes wayahe make up, Ganti kostum trus kono siap-siap karo rewangmu neng ruang make up,” ujar ibuku sambil mengambil jaket serta tas ku di tribun
“Iya ibu, tenang, sabar to,” jawabku santai
Saat ibu mengambil tas ku dan menyerahkannya padaku, resleting tas nya terbuka, dan lipstikku tidak sengaja terjatuh.
Aku membungkuk di tangga tribun untuk mengambil lipstikku. Saat kepalaku agak menoleh keatas tetapi punggungku masih membungkuk, aku menangkap pemandangan ganjil. Aku merasa tamu-tamu kak Agara sedikit aneh, mereka terlihat berdiri tegak dan berkulit putih pucat semua.
“Lho, iki tamu-tamu uleman ki opo gak dandan ta, kok pucet-pucet ngene to, eh tapi mungkin emang cuacane lagi hawa adem ngene makane…,” pikirku berusaha menepis rasa heran.
Saat aku sudah dibawah, aku menuju ruang make up yang sudah di siapkan, disana ada teman-teman tari yang terlihat sedang bercengkerama bersama, bertukar alat make up.
“Hey ilena, ayo rias bareng, taruh make up mu disini,” sapa Titik, mbak penari yang lebih tua dariku
“Oh iya mbak, sebentar nggih,” balasku dengan senyuman
“Mbak, aku tak ganti baju dulu ke kamar mandi nggih, mangkeh aku baru make up sama kalian, tolong ditunggu,” imbuhku sambil menenteng pakaian gantiku.
“Oh, iya na, cepet bali ya,” kata mereka serempak
“Nggih mbak,” balasku
Aku berjalan ke kamar mandi, tapi saat aku membuka kamar mandi aku agak kaget ternyata kamar mandi ini konsepnya seperti pembuatan website dalam website, kamar mandi ini desainnya kamar mandi dalam kamar mandi, ada banyak pintu kamar mandi, dan di dalamnya sangat luas. Awal masuk ke kamar mandi ini ternyata banyak jemuran yang tergantung, dan ada sebuah sumur tua yang masih digunakan didalamnya.
Aku pun memilih salah satu kamar mandi yang lebih tertutup di dalam kamar mandi tersebut.
Ketika aku sudah selesai berganti pakaian, aku membuka pintu kamar mandi yang aku masukki tadi, dan saat aku keluar, aku benar-benar sangat terkejut, yang awalnya cahaya nya terang, kini menjadi remang-remang, dan saat aku membuka pintu kamar mandi utama, aku semakin terkejut, ternyata ada pintu lain lagi, kejadian membuka pintu demi pintu untuk aku keluar terjadi berulang kali.
Waktu itu aku merasa bukan takut akan hal mistis, tapi aku takut terlambat pada acara besar dan penting milik kakak ku. Aku kelelahan membuka pintu demi pintu, setiap pintu yang aku masuki sama saja, akhirnya aku pergi ke jendela ruang kamar mandi yang pertama yang paling utama, mungkin kelihatannya aku bisa keluar lewat jendela kan? tetapi kondisinya tidak seperti itu.
Jendela itu terbuka lebar-lebar, dan anehnya, ternyata salah satu penari dari desa yang kakaku undang, yang bernama Inasih memanggilku.
“Ilena, ayo,” panggilnya sambil menari diatas panggung pengantin.
“Lho, acarane kok wes mulai, t-tapi…”
Ucapku terhenti saat menyadari bahwa suasana yang aku lihat dari jendela itu bukan suasana pernikahan kakak ku tadi, tapi tempatnya berbeda, tempat pernikahan yang kakak ku pilih tadi tempatnya rindang, tapi yang ku lihat dari jendela ini kok seperti jalanan yang pernah aku lalui semasa kecil, tempatnya tandus, tak ada pohon, hanya jalanan tanah kering yang familiar.
“Ya Allah, iki sebenere opo sih seng terjadi, iki dudu panggon mantenane kak Agara,” ucapku cemas
Aku merasa mulai ketakutan, akhirnya aku mencoba membuka pintu demi pintu lagi untuk bisa keluar dari kamar mandi itu, aku membuka pintu pertama ternyata itu kamar mandi biasa, pada pintu kedua ada sebuah ruangan seperti ruang dokter, diruangan itu ada pintu lagi yang entah akan menuju gerbong mana lagi. Aku memberanikan diri untuk memasuki ruangan tersebut dan memberanikan diri untuk membuka pintu lain yang ada diruangan itu.
“Ruangan seng iki kok sepi banget ya, iki koyok ruangan dokter, tapi gak ono uwong, eh itu ada pintu lagi, aku harus buka, nek aku gak berani kapan aku bakal keluar dari sini, aku emoh terjebak neng kene selawase,” ujarku sambil gemetaran.
Sebelum aku membuka pintu yang ada di ruangan itu, tiba-tiba ada wanita berdandan layaknya perawat berdiri disampingku, akupun juga tak sadar dia datang dari mana. Aku langsung bertanya jalan kepadanya.
“Eh mbak, mbak bisa tolong bantu saya, mbak ini tolong bisa tunjukkin gak pintu mana ya supaya saya bisa keluar dari kamar mandi ini,” kataku dengan nada panik
“Kamar mandi?, emm ayo aku antar ke ruangan sebelah aja dulu ya,” jawabnya dengan nada lembut.
Didalam ruangan pintu yang aku ingin buka tadi ternyata didalamnya terdapat banyak pasien dan satu dokter laki-laki yang sedang bekerja menyuntikkan jarum ke pasien-pasiennya.
“Dok, bisa tolong tangani pasien yang ini?,” kata si perawat
“Hah? Pasien? Aku? aku gak lara padahal,” batinku kebingungan
Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menurut saja, akhirnya aku 2x disuntik, entah cairan apa yang mereka suntikkan padaku, tetapi aku merasa lebih tenang dari rasa cemasku sebelumnya.
“Dok saya minta maaf, saya gak bisa bayar, karna saya terjebak disini, uang saya ada di luar semua,” kataku dengan memelas.
“Oh gapapa kok, gak usah bayar, cepat pulih ya, kamu boleh pergi,” kata dokter itu sambil tersenyum namun seperti mengetahui sesuatu
Saat aku ingin pergi aku sempat melihat jam dinding diruangan tersebut, dan ternyata masih pukul setengah enam sore, yang dimana aku belum tertinggal di acara pernikahan kakak ku dan masih bisa tampil untuk menari. Karna aku tahu acara pernikahan kakaku berlansung sampai malam hari.
Tak sempat mengucapkan terima kasih kepada perawat serta dokter itu, tiba-tiba semuanya sudah menghilang dengan dibarengi muculnya cahaya putih. Aku sudah berada dalam kamarku, dalam rumahku yang sangat sepi, dan rasanya aku seperti habis bangun tidur.
Saat aku terbangun ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, artinya hari sudah berganti.
“Loh, bukane aku mau ki neng mantenane kak Agra ya, kok aku malah neng omah lagi, iki piye to, aku bingung banget,” kataku dengan raut wajah kebingungan
Saat aku berjalan keluar rumah, di depan rumah ternyata sudah ada sebuah bis, yang ternyata didalamnya ada kak Agra, dan kak Hira yang mengenakan pakaian pengantin berwarna putih, tetapi di dalam bis tersebut, ada cukup banyak tamu yang ikut serta mengantar kak Agara dan kak Hira pulang, ayah serta ibuku juga ikut serta dalam bis tersebut.
Kak Agara, kak Hira, Ayah, dan Ibu keluar dari bis tersebut, tapi hanya ibu yang menyapaku. Aku pikir mereka kecewa karna aku tidak datang ke pernikahan mereka sebagai adik kandungnya.
Saat ibu mau masuk kedalam rumah aku mencengkeram tangannya dan memasang mata yang berkaca-kaca.
“Ibu, aku arep ngomong sesuatu,” kataku
“Ayo ke kamarmu dulu ndok,” jawab ibu sambil mengelus pundakku
“Ibu, aku minta maaf, aku tadi ngrasa hadir kok bu neng mantenane kakak, tapi kok ternyata aku malah tidur,” jelasku pada ibu hampir menangis merasa bersalah.
“Iya ndok, kamu tadi memang ada kok disana, tapi tadi ibu cari-cari kamu ndak ada, ndok, kamu tiba-tiba ngilang, ibu udah ngrasa kalau tadi waktu di tribun waktu jaketmu ibu ambil, ada yang nempel di kamu,” jawab ibuk sambil meneteskan air mata
“Astagfirullah ibu, ibu ini ngomong apa si,” jawabku dengan bibir gemetaran
“Allahu Akbar,” Aku bangun, nafasku tersenggal, mataku basah.
“Lho, iki kenapa ya kok aku nangis,” kubasuh wajahku, masih terngiang-ngiang dengan mimpi tadi yang begitu nyata.
Beberapa menit setelah aku bangun tidur, kuhabiskan untuk merenung, mimpiku ini agak absurd tapi aku baru sadar ternyata ini bukan hanya sekedar bunga tidur, tetapi itu adalah alam bawah sadarku yang membawa apa yang pernah aku alamai sebelumnya. Mulai dari rasa takut, perasaan merasa bersalah, rasa tertinggal, dan terjebak dengan masa lalu.
Aku ingat saat dalam mimpiku ada dokter yang mengatakan “cepat pulih”, mungkin maksudnya adalah, cepat pulih untuk mentalku yang berantakan, dan saat perawat itu mengatakan aku ini pasien, dikehidupan nyata sebelumnya aku pernah pergi ke psikolog untuk menyembuhkan perasaan yang tidak pernah bisa aku ungkapkan. Jadi betul jika aku dipanggil sebagai pasien.
Aku ingat juga ada ibu, beliau mengatakan ada yang menempel, mungkin maksudnya adalah masa lalu yang belum sempat aku damaikan dan masih melekat dalam benakku.
Tamu-tamu pucat yang menyeramkan itu, mungkin maksudnya adalah, ketakutan-ketakutanku yang selalu aku tepis supaya terlihat baik-baik saja.
Dan untuk ruang-ruang yang banyak pintunya itu, mungkin maksudnya adalah kisah-kisah yang masih sering aku buka kembali untuk mengingat betapa laranya didalam sana.
Bunga tidur ku yang absurd itu mungkin adalah bentuk lelah yang ingin aku ekspresikan di dunia nyata, tetapi selalu disalah artikan oleh orang lain.
BIODATA PENULIS
Selviana Safitri, lahir di Jepara pada 10 Mei 2005, sang pengguna Instagram @slvanasftr_, adalah manusia manis yang bukan hanya karena kepribadiannya, tapi juga karena hobi makan cokelat (bisa dibilang, hampir setia lebih dari hubungan LDR). Sejak kecil, Selviana sudah akrab dengan kertas dan pulpen entah untuk menulis cerita, lirik lagu, atau coretan galau tak berujung. Dunia musik adalah sumber inspirasinya, tempat ia melarikan diri saat naskah mandek atau saat realita terlalu serius. Ia percaya bahwa setiap orang punya cerita, dan tugasnya adalah menyulap cerita itu jadi tulisan yang bikin senyum-senyum sendiri, mewek, atau minimal bilang, “Ini banget sih gue!


















