Oleh: Bulan Azizah Nur Hidayah, Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah, UIN Salatiga
Pernahkah hubungan pertemanan menjadi canggung hanya karena salah memahami isi sebuah pesan chat? Fenomena seperti ini cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa. Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan aktivitas lainnya, komunikasi melalui aplikasi chat menjadi cara yang paling praktis untuk berinteraksi. Mahasiswa dapat bertukar informasi, berdiskusi mengenai tugas, atau sekadar menanyakan kabar teman tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu membuat komunikasi berjalan lancar. Tidak sedikit hubungan pertemanan yang mengalami kesalahpahaman hanya karena pesan yang dikirim atau diterima memiliki makna yang berbeda.
Saat ini, aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Line telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa sehari-hari. Hampir semua informasi penting disampaikan melalui chat, mulai dari tugas kelompok, jadwal perkuliahan, hingga kegiatan organisasi. Penggunaan chat memang memberikan banyak manfaat karena lebih cepat, praktis, dan mudah diakses kapan saja. Akan tetapi, semakin sering mahasiswa berkomunikasi melalui chat, semakin besar pula kemungkinan terjadinya miskomunikasi. Tidak adanya ekspresi wajah, kontak mata, dan intonasi suara membuat penerima pesan harus menafsirkan sendiri maksud dari pesan yang diterimanya. Kondisi inilah yang sering menjadi awal munculnya kesalahpahaman dalam hubungan pertemanan.
Idealnya, komunikasi melalui chat dapat menjadi sarana yang efektif untuk menjaga hubungan pertemanan antar mahasiswa. Melalui komunikasi yang jelas, sopan, dan terbuka, mahasiswa dapat saling mendukung, berbagi informasi, serta menjaga kedekatan meskipun memiliki kesibukan yang berbeda. Namun, realitas yang terjadi tidak selalu demikian. Berdasarkan pengamatan yang sering ditemui di lingkungan perkuliahan, keterlambatan membalas pesan sering dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian. Selain itu, penggunaan kata-kata yang terlalu singkat atau kurang jelas juga dapat menimbulkan berbagai asumsi yang belum tentu benar. Akibatnya, hubungan pertemanan yang awalnya baik dapat menjadi renggang hanya karena kesalahan dalam memahami pesan.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Kekayaan Media (Media Richness Theory) yang dikemukakan oleh Richard L. Daft dan Robert H. Lengel. Teori ini menjelaskan bahwa setiap media komunikasi memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyampaikan informasi. Komunikasi tatap muka dianggap lebih kaya karena memungkinkan seseorang memahami pesan melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara. Sebaliknya, komunikasi melalui chat hanya mengandalkan teks sehingga peluang terjadinya salah penafsiran menjadi lebih besar. Dari sudut pandang komunikasi interpersonal, keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada pesan yang disampaikan, tetapi juga pada bagaimana pesan tersebut dipahami oleh penerimanya.
Untuk mengurangi terjadinya miskomunikasi, mahasiswa perlu lebih bijak dalam menggunakan media chat. Penggunaan bahasa yang jelas dan mudah dipahami dapat membantu mengurangi kesalahan penafsiran. Ketika terjadi kesalahpahaman, sebaiknya dilakukan klarifikasi secara langsung agar masalah tidak semakin besar. Selain itu, penggunaan emoji, stiker, atau pesan suara dapat membantu memperjelas maksud dan emosi yang ingin disampaikan. Komunikasi tatap muka juga tetap perlu dilakukan, terutama ketika membahas persoalan yang berpotensi menimbulkan perbedaan pemahaman.
Pada akhirnya, komunikasi melalui chat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa modern. Kehadirannya memberikan banyak kemudahan dalam menjaga hubungan pertemanan dan mempercepat pertukaran informasi. Namun, komunikasi melalui chat juga memiliki keterbatasan yang dapat memicu kesalahpahaman apabila tidak digunakan dengan baik. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun komunikasi yang terbuka, jelas, dan saling menghargai agar hubungan pertemanan tetap terjalin dengan harmonis. Sebab, sebaik apa pun teknologi yang digunakan, kualitas hubungan tetap ditentukan oleh cara manusia berkomunikasi dan memahami satu sama lain.


















