Oleh: Muhammad Fathurrayhan, Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah UIN Salatiga
Sekarang ini, kita sering mendengar kata-kata kasar dan umpatan dalam percakapan sehari-hari di kalangan remaja. Hal ini tidak hanya terjadi saat bertemu langsung, tetapi juga saat berinteraksi di media sosial, grup percakapan daring, dan bahkan di sekolah. Beberapa remaja merasa bahwa menggunakan bahasa kasar adalah cara untuk menunjukkan keakraban dan solidaritas dalam pergaulan.
Meskipun sering dianggap sebagai bentuk kedekatan, penggunaan bahasa semacam ini dikhawatirkan dapat mengurangi kesadaran remaja akan pentingnya menjaga kesantunan dalam berkomunikasi. Akibatnya, kata-kata yang dulu dipandang kurang pantas kini terasa biasa dalam percakapan sehari-hari. Keakraban tidak harus dibangun dengan menggunakan kata-kata kasar. Sebaliknya, menggunakan bahasa yang baik menunjukkan bahwa kita sudah dewasa dalam bergaul.
Sayangnya, kenyataannya berbeda. Banyak remaja yang menggunakan kata-kata kasar dan ejekan sebagai panggilan sehari-hari. Mereka bahkan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang lumrah dan tidak lagi dipandang sebagai bentuk penghinaan. Fenomena ini diperkuat oleh budaya kelompok. Remaja yang memilih menggunakan bahasa sopan sering kali dianggap terlalu formal atau kaku oleh teman-temannya. Mereka bahkan dicap “tidak asik” karena tidak mengikuti gaya komunikasi yang sama dengan kelompoknya.
Seorang siswa sekolah menengah mengaku pernah merasa tidak nyaman saat harus mengikuti kebiasaan teman-temannya yang suka menggunakan kata-kata kasar. Namun, ia memilih diam karena takut dianggap berbeda dari kelompoknya. “Kalau tidak ikut berbicara seperti mereka, kadang kita malah dibilang sok baik atau tidak bisa bercanda,” katanya.Kebiasaan menggunakan kata-kata kasar tidak hanya memengaruhi cara kita berbicara, tetapi juga cara kita memperlakukan orang lain. Saat ejekan atau umpatan terus dianggap sebagai candaan, lama-kelamaan kita bisa sulit membedakan mana yang benar-benar lucu dan mana yang sebenarnya menyakitkan. Akibatnya, rasa empati terhadap orang lain dapat berkurang dan hubungan sosial menjadi kurang sehat.
Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu memperkuat pendidikan karakter dan literasi berbahasa sejak dini. Orang tua, guru, dan lingkungan pergaulan harus memberikan contoh penggunaan bahasa yang sopan tanpa menghilangkan unsur keakraban dalam berkomunikasi. Selain itu, perlu dinormalisasikan pergaulan yang sehat dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak terlalu kaku, baik dengan teman sebaya maupun dengan yang lebih tua, agar tercipta keharmonisan antar sesama tanpa harus menjatuhkan satu sama lain.
Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan sikap, nilai, dan karakter seseorang. Meskipun penggunaan kata-kata kasar sering dianggap sebagai simbol keakraban dalam pergaulan remaja, kebiasaan tersebut berisiko mengaburkan batas antara candaan dan penghinaan serta mengurangi kepekaan terhadap perasaan orang lain. Karena itu, penting untuk membangun budaya komunikasi yang tetap hangat dan akrab tanpa mengesampingkan kesantunan. Dengan dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulan, remaja dapat membiasakan diri menggunakan bahasa yang lebih menghargai sesama. Keakraban yang sejati tidak lahir dari ejekan atau umpatan, melainkan dari rasa saling menghormati, memahami, dan menerima satu sama lain sehingga tercipta hubungan sosial yang lebih sehat, harmonis, dan bermakna.


















