Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Feature

Perjuangan Diriku Menemukan Jalan Dakwah melalui Dunia Literasi dan Jurnalistik

×

Perjuangan Diriku Menemukan Jalan Dakwah melalui Dunia Literasi dan Jurnalistik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nashrul Mu’minin S.Pd,. C.PW,. C.IJ ( Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Ada perjalanan yang tidak selalu diketahui banyak orang. Perjalanan yang dimulai dari desa sederhana, dibangun melalui doa orang tua, ditemani buku-buku, dan perlahan menemukan arah melalui tulisan. Bagiku, perjalanan tersebut bukan sekadar tentang pendidikan, pekerjaan, atau keinginan menjadi seseorang yang dikenal. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah tentang menemukan diri sendiri, mengenali potensi, dan memahami bahwa setiap kemampuan yang diberikan Allah SWT seharusnya dapat membawa manfaat bagi orang lain.

Example 300x600

Namaku Nashrul Mu’minin. Aku lahir pada 21 Februari 2003 di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Aku tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana, bersama ayahku, Kusnadi, dan ibuku, Umi Ubudiyah. Dari keluarga inilah aku belajar mengenai kehidupan, perjuangan, kesabaran, dan arti sebuah harapan. Aku menyadari bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu mudah, tetapi setiap langkah yang ditempuh dengan kesungguhan memiliki nilai tersendiri.

Sejak kecil, aku menjalani pendidikan di lingkungan Muhammadiyah. Perjalanan pendidikanku dimulai dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal pada 2006–2009, kemudian MI Muhammadiyah 03 Takerharjo pada 2009–2015, MTs Muhammadiyah 15 Lamongan pada 2015–2018, dan MA Muhammadiyah 09 Lamongan pada 2018–2021. Pendidikan bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, melainkan ruang untuk membentuk karakter, mengenali potensi, dan belajar memahami kehidupan.

Dari perjalanan pendidikan tersebut, aku perlahan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kemampuan yang mungkin belum ditemukan pada awal kehidupannya. Ada yang menemukan bakatnya melalui olahraga, seni, bisnis, pendidikan, atau berbagai bidang lainnya. Bagiku, salah satu pintu untuk mengenali diri adalah melalui membaca dan menulis.

Menemukan Hobi yang Berubah Menjadi Perjalanan Hidup

Aku tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa suatu hari menulis akan menjadi bagian penting dari kehidupanku. Pada awalnya, menulis hanyalah kegiatan yang kulakukan untuk menuangkan gagasan, menyampaikan pemikiran, dan merangkai pengalaman menjadi sebuah cerita. Namun, semakin lama aku mengenal dunia literasi, semakin besar pula ketertarikanku terhadap bidang jurnalistik dan content writing.

Aku mulai memahami bahwa tulisan bukan sekadar susunan kata yang dibaca kemudian dilupakan. Tulisan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, menyuarakan persoalan, membangun kesadaran, bahkan menggerakkan seseorang untuk melakukan perubahan. Sebuah tulisan yang sederhana sekalipun dapat memiliki makna mendalam apabila disusun dengan kejujuran, ketulusan, dan tujuan yang jelas.

Dari situlah aku menemukan sesuatu yang terasa dekat dengan diriku sendiri. Menulis menjadi hobi yang perlahan berkembang menjadi minat, keterampilan, dan cita-cita. Aku mulai menikmati proses mencari ide, membaca berbagai referensi, mengamati persoalan sosial, menyusun paragraf, dan memperbaiki tulisan yang belum sempurna.

Aku menyadari bahwa menjadi penulis tidak cukup hanya memiliki keinginan. Dibutuhkan kedisiplinan, kesabaran, ketekunan, serta kemauan untuk terus belajar. Tidak semua tulisan langsung diterima, tidak semua gagasan mendapatkan perhatian, dan tidak semua proses berjalan sesuai harapan. Namun, justru melalui pengalaman tersebut aku belajar bahwa dunia literasi mengajarkan seseorang untuk tidak mudah menyerah.

Bagiku, menemukan hobi adalah salah satu bentuk penemuan diri yang paling berharga. Ketika seseorang menemukan bidang yang benar-benar dicintainya, ia tidak sekadar melakukan aktivitas, tetapi mulai memahami alasan mengapa dirinya ingin terus berkembang. Menulis memberikan ruang bagiku untuk mengenali pikiran, memahami kehidupan, dan mengembangkan kemampuan yang sebelumnya mungkin tidak kusadari.

Aku belajar bahwa tidak semua orang harus memiliki jalan hidup yang sama. Ada yang menemukan kebahagiaan melalui pekerjaan tertentu, ada yang melalui pengabdian, dan ada pula yang melalui kreativitas. Aku menemukan kebahagiaan ketika gagasan yang sebelumnya hanya tersimpan dalam pikiran dapat berubah menjadi tulisan yang dibaca orang lain.

Dari Lamongan Menuju Yogyakarta: Pendidikan dan Perjuangan

Perjalanan hidupku kemudian membawa langkah menuju Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai ruang pendidikan, kebudayaan, dan literasi ini menjadi tempat bagiku untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

Pada 2024–2026, aku menempuh pendidikan di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Agama Islam. Perjalanan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam kehidupanku. Aku belajar bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan memperoleh gelar akademik, tetapi juga tentang membangun tanggung jawab, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih luas.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, aku melanjutkan perjalanan akademik di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Agama Islam, pada 2026. Keputusan tersebut bukan sekadar keinginan untuk melanjutkan pendidikan, melainkan bagian dari ikhtiar memperkuat ilmu, memperluas perspektif, dan mengembangkan kemampuan dalam bidang pendidikan serta literasi.

Menjalani pendidikan sekaligus mengembangkan dunia kepenulisan tentu membutuhkan pengelolaan waktu dan komitmen. Ada saat ketika tugas akademik menumpuk, gagasan tulisan datang bersamaan, dan berbagai tanggung jawab harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Namun, aku berusaha memahami bahwa setiap proses memiliki tantangannya sendiri.

Aku tidak ingin pendidikan hanya berhenti menjadi pencapaian administratif. Bagiku, ilmu harus menjadi bekal untuk memberikan manfaat. Begitu pula dengan menulis. Aku ingin ilmu yang kupelajari dapat diterjemahkan menjadi gagasan yang mudah dipahami, tulisan yang mencerahkan, dan pesan yang mampu menjangkau masyarakat.

Perjalanan dari Lamongan menuju Yogyakarta mengajarkanku bahwa tempat asal bukanlah batas bagi seseorang untuk mengembangkan cita-cita. Desa tempat seseorang dilahirkan tidak menentukan seberapa jauh ia boleh bermimpi. Selama ada kemauan untuk belajar, keberanian mencoba, dan kesungguhan memperbaiki diri, kesempatan untuk bertumbuh selalu terbuka.

Aku membawa Lamongan sebagai bagian dari identitasku, sementara Yogyakarta menjadi ruang untuk memperluas perjalanan. Keduanya memiliki tempat tersendiri dalam kisah kehidupanku.

Menulis sebagai Ladang Dakwah

Ada satu hal yang selalu ingin kupegang dalam perjalanan kepenulisan: aku ingin meniatkan menulis sebagai ladang dakwah.

Bagiku, dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar, ceramah, atau pertemuan langsung. Dakwah juga dapat hadir melalui tulisan yang mengajak kepada kebaikan, menyampaikan ilmu, mengingatkan tentang kehidupan, serta membangun kesadaran sosial. Sebuah artikel, opini, feature, atau karya reflektif dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat bagi pembaca.

Aku ingin setiap tulisan yang kubuat memiliki tujuan lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan publikasi. Aku ingin tulisan tersebut mengandung nilai, memberikan perspektif, dan menghadirkan sesuatu yang dapat direnungkan. Apabila satu tulisan mampu membuat seseorang berpikir lebih baik, memperbaiki sikap, atau menemukan semangat untuk menjalani kehidupan, bagiku hal tersebut sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Namun, aku juga memahami bahwa menulis sebagai dakwah bukan berarti mengabaikan kaidah jurnalistik dan tanggung jawab intelektual. Tulisan harus disusun dengan jujur, tidak mengada-ada, tidak menyesatkan, serta menghargai fakta dan sumber informasi. Kebaikan pesan perlu berjalan bersama ketepatan penyampaian.

Di sinilah aku terus belajar. Aku ingin menjadi penulis yang tidak hanya pandai menyusun kalimat, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap setiap kata yang diterbitkan. Sebab, tulisan dapat memberikan pengaruh kepada pembaca. Oleh karena itu, setiap gagasan harus dipertimbangkan dengan baik.

Aku juga selalu berusaha mengingat bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman utama dalam kehidupanku. Di tengah kesibukan menulis, mengejar pendidikan, dan mengembangkan kemampuan, aku tidak ingin melupakan pentingnya membaca Al-Qur’an.

Bagiku, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan sumber nilai, petunjuk, dan pengingat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Aku ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan menulis. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuatku jauh dari pedoman yang seharusnya menuntun perjalanan hidup.

Aku percaya bahwa ilmu dan keterampilan perlu berjalan bersama akhlak. Kemampuan menulis akan lebih bermakna ketika digunakan untuk menyampaikan kebenaran, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat. Aku tidak ingin hanya dikenal sebagai seseorang yang mampu menulis, tetapi juga sebagai seseorang yang berusaha menjaga nilai-nilai kebaikan melalui tulisannya.

Terima Kasih kepada Media yang Memberikan Ruang dan Kepercayaan

Dalam perjalanan kepenulisan, aku menyadari bahwa tidak semua proses dapat dilakukan seorang diri. Ada pihak-pihak yang memberikan kesempatan, ruang publikasi, kritik, masukan, dan pengalaman berharga. Mereka menjadi bagian penting dalam proses belajar yang tidak mungkin kulupakan.

Aku ingin menyampaikan terima kasih kepada Media Massa Muhammadiyah yang telah menerima dan memberikan ruang bagi tulisan-tulisanku. Terima kasih juga kepada Koran Merapi, Kompas Jogja, JurnalPost, serta berbagai media lainnya yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui dunia publikasi.

Bagiku, diterimanya sebuah tulisan bukan hanya tentang kebanggaan pribadi. Lebih dari itu, kesempatan tersebut merupakan kepercayaan yang harus dijaga. Aku memahami bahwa setiap media memiliki karakteristik, standar, dan kaidah penulisan yang perlu dihormati.

Aku juga sangat berterima kasih kepada para editor, redaktur, dan pihak media yang telah memberikan masukan mengenai teknik menulis, kaidah opini, artikel, feature, serta berbagai bentuk tulisan jurnalistik lainnya. Kritik dan koreksi yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan belajarku.

Ada kalanya sebuah tulisan harus diperbaiki berkali-kali. Ada kalimat yang perlu dipadatkan, paragraf yang harus disusun ulang, argumentasi yang perlu diperkuat, dan sudut pandang yang perlu dipertajam. Pada awalnya, proses tersebut mungkin terasa melelahkan. Namun, aku kemudian memahami bahwa koreksi bukanlah bentuk penolakan terhadap kemampuan seseorang, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas tulisan.

Aku belajar bahwa penulis yang baik bukanlah penulis yang merasa tulisannya selalu benar, tetapi penulis yang bersedia menerima masukan dan terus memperbaiki diri.

Terima kasih kepada semua media dan pihak yang telah memberikan ruang, kesempatan, serta pembelajaran. Pengalaman tersebut membuatku semakin memahami bahwa dunia jurnalistik bukan hanya tentang menerbitkan tulisan, melainkan tentang membangun tanggung jawab, ketelitian, dan kedewasaan berpikir.

Aku tidak ingin melupakan setiap kesempatan yang pernah diberikan. Sebab, di balik tulisan yang berhasil diterbitkan, ada proses belajar, keberanian mencoba, dan dukungan dari orang-orang yang percaya bahwa sebuah gagasan layak mendapatkan ruang.

Feature dan Opini: Belajar Memahami Kehidupan dari Sudut Pandang yang Berbeda

Semakin jauh aku mengenal dunia jurnalistik, semakin aku memahami bahwa setiap jenis tulisan memiliki karakteristik dan kekuatan tersendiri.

Opini memberikan ruang bagi penulis untuk menyampaikan pandangan, argumentasi, serta refleksi terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat. Melalui opini, aku belajar bahwa sebuah gagasan perlu didukung oleh alasan yang kuat, fakta yang relevan, dan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, feature mengajarkan cara melihat kehidupan melalui sisi yang lebih manusiawi. Feature bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman, suasana, perjuangan, dan kisah yang dapat menyentuh pembaca. Melalui feature, aku belajar bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar.

Aku mulai memahami bahwa menulis feature membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan. Seorang penulis perlu memperhatikan detail, mendengarkan pengalaman orang lain, memahami situasi, serta menyusun cerita dengan cara yang hidup tanpa mengabaikan fakta.

Di sisi lain, menulis artikel mengajarkanku pentingnya struktur, kedalaman pembahasan, dan ketepatan informasi. Setiap bentuk tulisan memiliki tuntutan yang berbeda, tetapi semuanya membutuhkan kemampuan membaca, berpikir, dan menyampaikan gagasan secara jelas.

Perjalanan tersebut membuatku semakin yakin bahwa jurnalistik adalah bidang yang ingin terus kupelajari. Aku ingin berkembang menjadi penulis yang mampu menghadirkan tulisan informatif, reflektif, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Aku menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Masih banyak kaidah yang perlu dipahami, banyak teknik yang perlu dipelajari, dan banyak pengalaman yang perlu dijalani. Namun, aku tidak ingin menjadikan keterbatasan pengetahuan sebagai alasan untuk berhenti.

Bagiku, belajar adalah proses yang tidak memiliki garis akhir. Selama masih ada kesempatan membaca, menulis, dan memperbaiki diri, selalu ada ruang untuk berkembang.

Menghadapi Krisis Seperempat Kehidupan dengan Kesadaran dan Keberanian

Sebagai generasi muda, aku memahami bahwa perjalanan menuju masa depan tidak selalu mudah. Ada banyak pertanyaan yang muncul ketika seseorang mulai memasuki usia dewasa. Apakah pilihan pendidikan yang diambil sudah tepat? Apakah pekerjaan yang diinginkan dapat tercapai? Apakah kemampuan yang dimiliki cukup untuk menghadapi persaingan? Apakah kehidupan akan berjalan sesuai dengan harapan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan menemukan diri. Namun, aku belajar bahwa terlalu lama terjebak dalam ketakutan dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.

Kita sering kali terlalu sibuk memikirkan masa depan hingga lupa menghargai proses yang sedang dijalani. Kita ingin segera berhasil, segera dikenal, segera mencapai tujuan, dan segera membuktikan bahwa diri kita mampu. Padahal, tidak semua hal dapat diperoleh dalam waktu singkat.

Aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa kehidupan bukan perlombaan untuk mengalahkan orang lain. Kehidupan merupakan perjalanan untuk mengembangkan potensi, memperbaiki kualitas diri, dan memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Apabila hari ini belum berhasil, bukan berarti seluruh usaha telah sia-sia. Apabila tulisan belum diterima media, bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan menjadi penulis. Apabila cita-cita belum tercapai, bukan berarti perjalanan harus berhenti. Terkadang, sesuatu yang belum berhasil hari ini justru menjadi pengalaman yang membantu kita menemukan cara yang lebih baik pada masa mendatang.

Kesadaran diri mengajarkan kita untuk mengenali kemampuan sekaligus menerima keterbatasan. Kita perlu mengetahui kapan harus berusaha lebih keras, kapan harus mengevaluasi strategi, dan kapan harus memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Tidak ada salahnya berjalan perlahan selama kita tetap memiliki arah. Tidak ada salahnya memulai kembali selama kita masih memiliki keberanian. Tidak ada salahnya mengubah rencana ketika kita menemukan jalan yang lebih sesuai dengan nilai dan tujuan kehidupan.

Yang terpenting, jangan kehilangan diri sendiri ketika berusaha mengejar masa depan.

Kesimpulan: Menjadi Manusia yang Bertumbuh dan Memberi Manfaat

Perjalanan hidup mengajarkanku bahwa menemukan diri sendiri bukanlah proses yang selesai dalam satu malam. Ia membutuhkan waktu, pengalaman, kesabaran, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan. Dari Lamongan menuju Yogyakarta, dari dunia pendidikan menuju jurnalistik, dari sekadar hobi menjadi cita-cita, aku belajar bahwa setiap langkah memiliki makna.

Aku bersyukur telah menemukan dunia menulis sebagai ruang untuk mengembangkan diri sekaligus menyampaikan kebaikan. Aku ingin terus belajar menjadi penulis, jurnalis, dan content writer yang tidak hanya mengejar publikasi, tetapi juga menjunjung tanggung jawab, integritas, dan nilai-nilai dakwah.

Terima kasih kepada keluarga, khususnya ayah Kusnadi dan ibu Umi Ubudiyah, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupanku. Terima kasih kepada para pendidik, editor, redaktur, media, dan semua pihak yang telah memberikan kesempatan serta masukan. Setiap dukungan dan koreksi menjadi bagian dari proses yang membentuk diriku hingga hari ini.

Aku ingin terus mengingat bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan melalui perjalanan tersebut.

Untuk pembaca yang sedang menghadapi krisis seperempat kehidupan, jangan terlalu keras kepada diri sendiri. Berikan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memahami bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Jangan membandingkan seluruh perjalanan hidupmu dengan potongan keberhasilan orang lain.

Untuk diriku sendiri, Nashrul Mu’minin, tetaplah rendah hati ketika tulisanmu diterima, tetaplah sabar ketika tulisanmu dikoreksi, dan tetaplah kuat ketika perjalanan terasa berat. Jangan pernah berhenti membaca, terutama Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Jangan biarkan ambisi menghilangkan ketulusan, dan jangan biarkan keberhasilan membuatmu lupa kepada Allah SWT serta orang-orang yang telah mendukungmu.

Aku ingin terus menulis, bukan semata-mata agar namaku dikenal, tetapi agar gagasanku dapat memberikan manfaat. Aku ingin menjadikan setiap tulisan sebagai jejak kebaikan, setiap proses sebagai pembelajaran, dan setiap kesempatan sebagai amanah.

“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”

Fa inna ma‘al-‘usri yusrā, inna ma‘al-‘usri yusrā.

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Selalu ada ruang untuk berharap, berusaha, dan memperbaiki diri.

Teruslah melangkah, meskipun perlahan. Teruslah menulis, meskipun belum sempurna. Teruslah belajar, meskipun belum banyak yang mengetahui perjuanganmu. Sebab, kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan tanpa kesulitan, melainkan kehidupan yang tetap menghadirkan kebaikan di tengah segala keterbatasan.

Salam literasi, salam perjuangan, dan salam dakwah melalui tulisan.

Nashrul Mu’minin

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *