Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Perang Bintang dalam Kegelapan

×

Perang Bintang dalam Kegelapan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Example 468x60

Oleh: Robby Alam Raya

Gerimis membungkus Negeri Khatulistiwa malam itu. Di pojok sebuah kedai kopi yang remang-remang, Profesor Malik duduk memandangi cangkirnya yang mulai mendingin. Sebagai seorang pengamat politik senior yang menghabiskan puluhan tahun menguliti isi kepala para penguasa, ia tahu betul bahwa ketenangan di permukaan sering kali menjadi penanda badai besar di kedalaman.

Example 300x600

Di seberang mejanya, duduk seorang pria paruh baya dengan jaket kulit hitam yang basah oleh tampias hujan. Pria itu adalah informan lama Malik, seorang mantan perwira intelijen yang kini memilih hidup dalam bayang-bayang.

“Bintang-bintang di langit sedang saling bergesekan, Prof,” bisik pria berjaket kulit itu, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin kendaraan di luar. “Tapi gesekan paling mematikan justru terjadi di tempat yang tidak tertembus cahaya.”

Profesor Malik tersenyum tipis. “Maksudmu benturan antara sang Jenderal Baru yang naik takhta dengan sang Mantan Wali Kota?”

“Bukan sekadar benturan, Prof. Ini sabotase,” kata pria itu seraya menggeser sebuah diska lepas (flashdisk) kecil berwarna perak ke arah Malik. “Di dalam sana ada rekaman transkrip. Sang Panglima Hukum, Jenderal Sigra, terbukti memasang telinga di ruang kerja pribadi Presiden Prabu. Dan perintahnya datang langsung dari Istana Lama, dari sang Mantan yang menolak kehilangan cengkeraman.”

Malik menatap benda perak itu. Ia tahu, memegang benda ini sama saja dengan menggenggam granat tanpa pin. Di negeri fiktif bernama Khatulistiwa ini, transisi kekuasaan tidak pernah berjalan selembut sutra. Di balik senyum diplomatis para pejabat di layar televisi, ada jaringan kabel sadap, spionase domestik, dan konspirasi yang dirancang di ruang-ruang bawah tanah.

Bayang-Bayang dari Istana Lama

Jauh dari kedai kopi tersebut, di sebuah paviliun mewah yang terletak di pinggiran kota yang asri, sang Mantan Wali Kota—yang kini kerap dijuluki “Ki Lurah” oleh para pengikutnya—sedang memutar-mutar gelas teh hangatnya. Di dinding ruang kerjanya, terpajang peta besar Negeri Khatulistiwa. Selama sepuluh tahun terakhir, ia adalah arsitek utama dari segala infrastruktur dan jaringan kekuasaan di negeri ini. Namun, waktu telah habis. Konstitusi memaksanya turun, dan kini kursi tertinggi diduduki oleh Prabu, seorang mantan jenderal temperamental yang memiliki visi berbeda.

Di hadapan Ki Lurah, berdiri Jenderal Sigra. Pakaian dinasnya rapi tanpa cela, bintang-bintang di pundaknya berkilat tertimpa lampu kristal. Namun, matanya mencerminkan kegelisahan yang disembunyikan dengan rapi.

“Apakah semuanya bersih, Sigra?” tanya Ki Lurah tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada peta.

“Bersih, Baginda,” jawab Sigra tegas. “Alat pemancar frekuensi ultra-rendah sudah terpasang di bawah meja jati ruang oval. Setiap helai napas, setiap instruksi, dan setiap rencana pembersihan kabinet yang diucapkan oleh Prabu langsung masuk ke peladen (server) rahasia kita. Prabu tidak akan bisa bergerak tanpa kita ketahui lebih dulu.”

Ki Lurah terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar dingin. “Prabu berpikir dia bisa membersihkan orang-orangku dari birokrasi begitu saja. Dia lupa siapa yang membangun tangga hingga dia bisa memanjat ke atas. Teruskan penyadapan itu. Jika dia berani menandatangani dekret untuk memeriksa proyek-proyek masa laluku, kita rilis rekaman pribadinya ke publik. Hancurkan kredibilitasnya sebelum dia sempat menghancurkan kita.”

Sigra mengangguk. Di bawah sumpah jabatan yang seharusnya didedikasikan untuk negara, Sigra telah memilih setianya pada sang mentor politik. Baginya, Prabu hanyalah penguasa sementara, sedangkan jaringan Ki Lurah adalah penguasa abadi yang mengakar di setiap lini bisnis dan penegakan hukum.

Sang Jenderal yang Terkepung

Sementara itu, di Istana Negara yang megah, Presiden Prabu sedang murka. Ruang kerjanya yang luas terasa mencekam. Di atas mejanya berserakan laporan dari badan intelijen militer swasta yang sengaja ia sewa secara independen karena ia sudah tidak memercayai lembaga intelijen resmi negara.

“Bagaimana mungkin garis komunikasi terenkripsi militer bisa ditembus?” geram Prabu, suaranya menggelegar membuat para ajudannya menunduk dalam-dalam.

“Ampun, Bapak Presiden,” ujar Kepala Intelijen Militer, Marsekal Arya. “Penyadapan ini tidak dilakukan dari luar melalui jaringan satelit atau peretasan siber biasa. Ini adalah operasi internal. Alatnya ditanam langsung secara fisik di ruangan ini. Dan protokol enkripsi yang digunakan hanya dimiliki oleh satu lembaga: Korps Panglima Hukum yang dipimpin oleh Sigra.”

Prabu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai mantan panglima perang yang kenyang dengan taktik gerilya, ia tahu bahwa musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya daripada satu divisi pasukan musuh di medan terbuka.

“Jadi, Sigra berani bermain api,” desis Prabu. “Dia pikir dia dilindungi oleh orang tua di paviliun itu? Ini adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Mereka tidak hanya menyadap seorang Prabu, mereka sedang menyandera kedaulatan negara demi mengamankan harta kekayaan hasil jarahan sepuluh tahun terakhir!”

“Apa perintah Anda, Pak? Apakah kita langsung menangkap Sigra?” tanya Arya.

Prabu menggeleng perlahan. Kemarahannya kini mereda, digantikan oleh kalkulasi dingin seorang ahli strategi. “Jangan sekarang. Jika kita tangkap dia hari ini tanpa bukti yang mutlak di depan publik, komplotan mereka di parlemen dan media akan menuduhku melakukan kudeta militer dan bertindak otoriter. Biarkan tikus-tikus itu mengira mereka aman dalam kegelapan. Kita pasang jebakan.”

Umpan yang Manis

Keesokan harinya, Prabu sengaja mengadakan rapat terbatas di ruang kerjanya. Rapat itu hanya dihadiri oleh segelintir orang kepercayaan. Prabu tahu, setiap kata yang diucapkannya akan langsung terkirim ke ruang monitor rahasia milik Sigra.

Dengan nada suara yang dibuat seolah-olah panik dan tertekan, Prabu berbicara, “Kita berada dalam posisi sulit. Dokumen audit investigasi atas proyek strategis nasional di era Ki Lurah sudah selesai. Nilai korupsinya mencapai ribuan triliun. Saya akan menyimpan dokumen asli ini di brankas pribadi saya di kediaman luar kota malam ini, sebelum diserahkan ke Jaksa Agung hari Senin.”

Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan bawah tanah tersembunyi yang disamarkan sebagai gudang logistik, Jenderal Sigra yang mendengarkan rekaman audio real-time tersebut langsung menegakkan punggungnya. Matanya berbinar.

“Ini dia,” gumam Sigra. Ia segera menghubungi nomor khusus. “Ki Lurah, burung sudah bernyanyi. Dokumen yang bisa menghancurkan kita semua akan dibawa ke rumah pribadinya malam ini. Ini kesempatan kita untuk mengambilnya atau memusnahkannya sebelum hari Senin.”

Dari seberang telepon, suara Ki Lurah terdengar tajam. “Gerakkan tim khususmu, Sigra. Hapus bukti itu. Jangan sampai ada yang tersisa. Jika perlu, buat skenario kecelakaan atau kebakaran di rumah itu. Ini masalah hidup mati kita.”

“Siap, laksanakan,” jawab Sigra dengan senyum kemenangan. Ia merasa berada di atas angin. Ia merasa sebagai sutradara dari akhir riwayat sang Presiden.

Jebakan Sempurna di Malam Buta

Malam berganti, hujan turun lebih deras dari malam sebelumnya. Sebuah minibus hitam tanpa pelat nomor meluncur perlahan memasuki kawasan perimeter kediaman pribadi Prabu di pinggir kota. Dari dalam mobil, turun delapan orang berpakaian taktis hitam lengkap dengan senjata berperedam suara. Mereka adalah tim elit bentukan Sigra yang bergerak di luar struktur resmi.

Dengan keahlian tinggi, mereka melumpuhkan sensor keamanan luar dan menyusup melalui pintu samping. Namun, saat mereka berhasil menembus ruang kerja dan membuka brankas yang dimaksud, lampu sorot berkekuatan ribuan watt tiba-tiba menyala dari segala arah, membutakan pandangan mereka.

“Angkat tangan! Senjata jatuhkan ke lantai!” teriak sebuah suara melalui pengeras suara.

Bukan ajudan atau polisi biasa yang mengepung mereka, melainkan satu batalion Pasukan Pengaman Presiden berkekuatan penuh lengkap dengan panser taktis. Tim khusus Sigra terjebak tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun. Mereka langsung dilucuti dan diborgol.

Di saat yang sama, Profesor Malik bersama beberapa jurnalis senior dari berbagai media independen terkemuka telah berkumpul di studio penyiaran darurat. Diska lepas yang diberikan oleh informan Malik malam sebelumnya telah digandakan dan diverifikasi secara forensik digital.

Tepat pukul 00.00, sebuah siaran langsung interupsi membelah siaran televisi nasional dan platform digital. Profesor Malik tampil di layar kaca, membongkar semua bukti rekaman penyadapan ilegal, aliran dana dari proyek korupsi Ki Lurah yang mendanai operasi spionase tersebut, hingga instruksi suara asli Jenderal Sigra. Publik Khatulistiwa gempar. Kemarahan rakyat meledak dalam hitungan menit di media sosial.

Runtuhnya Dinasti Kegelapan

Fajar belum menyingsing ketika iring-iringan kendaraan militer dan Kejaksaan Agung mengepung markas besar Korps Panglima Hukum. Jenderal Sigra yang sedang menunggu kabar keberhasilan timnya di ruang kerja justru terkejut melihat pintu ruangannya didobrak secara paksa oleh Polisi Militer.

“Jenderal Sigra, Anda ditangkap atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara, penyadapan ilegal terhadap kepala negara, dan konspirasi melakukan sabotase,” ujar Komandan Polisi Militer seraya menjulurkan surat perintah yang ditandatangani langsung oleh Presiden Prabu.

Sigra pucat pasi. Bintang-bintang di pundaknya seolah rontok seketika saat borgol besi melingkari pergelangan tangannya.

Tidak butuh waktu lama bagi tim penegak hukum untuk bergerak ke paviliun mewah milik Ki Lurah. Sang Mantan Wali Kota yang selama ini merasa dirinya tak tersentuh hukum, ditemukan sedang duduk lemas di kursi kerjanya setelah melihat tayangan berita di televisi. Seluruh jaringan kekuasaannya, mulai dari pebisnis hitam, pejabat korup, hingga aparat yang telah dibelinya, rontok dalam satu malam seperti kartu yang disusun rapi lalu ditiup angin.

“Semuanya sudah berakhir, Ki Lurah,” ujar Jaksa Agung yang memimpin langsung penangkapan tersebut. “Negara ini bukan milik dinasti Anda.”

Keadilan di Ruang Pengadilan

Enam bulan kemudian, Pengadilan Tinggi Militer dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menggelar sidang pembacaan putusan yang disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri. Ruang sidang penuh sesak oleh rakyat yang menuntut keadilan.

Ki Lurah duduk di kursi terdakwa dengan pakaian tahanan berwarna oranye mencolok. Wajahnya yang dahulu selalu tersenyum penuh wibawa, kini tampak keriput, layu, dan dipenuhi penyesalan. Di sampingnya, Jenderal Sigra menunduk dengan kepala plontos tanpa sisa-sisa keangkuhan seorang panglima hukum.

Hakim Ketua mengetukkan palunya tiga kali, suaranya menggema tegas di dalam ruangan yang sunyi senyap.

“Menyatakan Terdakwa I, sang Mantan Wali Kota, dan Terdakwa II, mantan Jenderal Sigra, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pengkhianatan terhadap kedaulatan negara, spionase ilegal, serta korupsi sistematis yang merugikan keuangan negara dalam skala masif. Menimbang bahwa tindakan para terdakwa telah merusak sendi-sendi demokrasi dan mengancam keselamatan kepala negara demi kepentingan kekuasaan pribadi dan dinasti…”

Hakim menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimat pamungkasnya.

“…maka dengan ini menjatuhkan hukuman kepada masing-masing terdakwa dengan hukuman penjara seumur hidup tanpa remisi, serta penyitaan seluruh aset kekayaan milik pribadi maupun keluarga untuk dikembalikan kepada kas negara!”

Sorak-sorai publik pecah di luar gedung pengadilan. Kehangatan matahari siang itu seolah menembus kabut tebal yang selama ini menyelimuti Negeri Khatulistiwa.

Di ruang kerjanya yang kini bersih dari segala alat sadap, Presiden Prabu berdiri menghadap jendela besar, menatap rakyatnya yang merayakan kemenangan hukum. Perang bintang dalam kegelapan telah usai, dan fajar baru yang terang benderang akhirnya terbit. ***

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Ahmad Bagus Azmul Musthofa, Santri-Murid Kelas X…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…

Cerpen

Oleh: Rabbani Mrwa Aqsho Majida, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…