Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Feature

Dari Jemuran Terasi ke Podium Doktor: Kisah Luluk Putri Pesisir Rembang Taklukkan UIN Walisongo

×

Dari Jemuran Terasi ke Podium Doktor: Kisah Luluk Putri Pesisir Rembang Taklukkan UIN Walisongo

Sebarkan artikel ini
Dr. Mamluatur Rahmah, M.Ag. berfoto bersama keluarga besar Monash Institute yang turut hadir dalam sidang promosi doktor (S3) di Kampus I UIN Walisongo Semarang, Rabu (10/06).
Example 468x60

Pikiranbangsa.co, Semarang – Angin dari Laut Jawa selalu membawa bau yang sama ke Desa Bonang, Lasem, Rembang. Asin. Menyengat. Bercampur aroma udang rebon yang dijemur di bawah matahari pesisir. Bagi sebagian orang, bau itu adalah latar belakang yang ingin segera mereka tinggalkan. Bagi Mamluatur Rahmah, ia adalah pengingat yang tidak pernah padam.

Rabu, 10 Juni 2026, perempuan yang akrab disapa Luluk itu berdiri di Gedung Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, bukan sebagai tamu, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai promovendus yang tengah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji. Anak seorang buruh terasi dari pesisir utara Rembang itu resmi menyandang gelar doktor dengan nilai disertasi 3,88 dan IPK akhir 3,84. Lintas perjalanan akademiknya, dari S1 hingga S3, seluruhnya ia tempuh secara linier di program studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang. Satu kampus. Satu bidang. Satu komitmen yang tidak pernah goyah dan mendapat apresiasi langsung dari Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag dan salah satu penguji promosi doktornya, Dr. Sulaiman Al-Kumayi.

Example 300x600

Perjalanan ke titik ini tidak bertabur bunga.

Ketika Mimpi Dianggap Terlalu Muluk

Lahir dari keluarga sederhana, Luluk tumbuh di lingkungan di mana pendidikan tinggi bukan standar, melainkan pengecualian. Menempuh S3 bagi seorang anak buruh, begitu pandangan yang ia dengar sejak kecil, adalah sesuatu yang mustahil, bahkan dianggap terlalu muluk-muluk.

Namun justru di sanalah api itu menyala. Bukan karena Luluk tidak mendengar kata-kata itu, melainkan karena ia mendengarnya terlalu keras.

“Banyak yang bilang, ‘Ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujungnya di dapur juga,’” kenangnya seusai sidang promosi. “Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan, dari latar belakang ekonomi apa pun, berhak memiliki intelektualitas.”

Ibu adalah Bahan Bakar

Di balik setiap halaman disertasi yang ia tulis, ada satu wajah yang selalu hadir.

“Setiap kali saya merasa lelah menulis, atau pusing dengan metodologi yang rumit, saya selalu membayangkan tangan ibu saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya.”

Kalimat itu meluncur bukan sebagai retorika. Ia berbicara tentang tangan yang nyata, tangan yang bekerja di bawah terik, tangan yang menjadi alasan seseorang di Semarang mengangkat pena dan bertahan.

Beasiswa yang Lebih dari Sekadar Uang Kuliah

Mimpi sebesar itu tentu butuh lebih dari sekadar tekad. Luluk mendapatkan akses melalui skema Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP yang dirancang untuk mencetak kader unggul dari lingkungan pesantren dan pendidikan Islam.

“Tanpa BIB, mungkin mimpi saya hanya akan terkubur di tumpukan jemuran terasi,” akunya.

Tapi ia segera meluaskan maknanya. “Beasiswa ini bukan hanya soal uang SPP. Ini soal martabat dan kepercayaan bahwa negara hadir untuk anak-anak seperti saya.”

Disertasi tentang Kematian, di Kandang Ulama

Pilihan Luluk untuk mendalami Tasawuf dan Psikoterapi dari jenjang sarjana hingga doktoral bukan tanpa alasan. Ia percaya bahwa khazanah spiritual Islam menyimpan jawaban atas persoalan-persoalan jiwa yang selama ini didominasi pendekatan Barat. Keyakinan itu ia buktikan dalam disertasinya yang tidak ringan: kecemasan kematian pada kalangan lansia di Pondok Pesantren Payaman, Magelang.

Sebuah pertemuan antara tasawuf, psikologi, dan realitas lapangan yang jarang dijelajahi secara serius.

Para penguji memuji ketajaman analisisnya. Dengan nilai 3,88, Luluk berhasil mengaitkan teori-teori tasawuf dengan kerangka psikologi modern tentang kecemasan kematian, lalu mengujinya pada konteks yang sangat khas Indonesia, yaitu kehidupan lansia di pesantren.

Kini, ia mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta, sekaligus aktif di Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Sukoharjo. Ia adalah istri Abdus Salam dan perempuan yang menolak memilih antara intelektualitas dan pengabdian.

Kenangan di Boncengan Motor, Ditemani Rintik Hujan

Luluk adalah Disciple Monash Institute angkatan 2012, sebuah rumah perkaderan yang memberikan beasiswa kuliah untuk lulusan SMA yang kurang mampu. Sebuah lembaga menyalakan api harapan untuk kaum muda yang punya semangat untuk maju tapi terhalang ekonomi. Menempanya dalam tradisi keilmuan yang ketat dan lintas batas. Fondasi itu kelak menjadi salah satu pilar yang menopangnya saat menghadapi kerumitan metodologi doktoral.

Keberhasilan Luluk bukan hanya dirayakan oleh keluarga. Sejumlah sahabat lama dari Monash Institute, turut hadir menyaksikan momen bersejarah itu, membawa serta kenangan-kenangan yang sudah lama tersimpan.

Khoirun Ni’mah, rekan satu angkatan 2012 yang hadir di hari sidang, tak kuasa menahan haru. Ia mengenang masa-masa ketika keduanya masih sama-sama berjuang, pulang malam dari mengajar les, menerjang jalan dengan sepeda motor, kadang ditemani rintik hujan.

“Ingat dulu malam-malam pulang ngelesi bareng kamu, aku yang selalu di depan. Motoran kadang ditemani rintik hujan. Ternyata sekarang sudah lulus S3 dan bisa boncengin aku pula,” ujar Ni’mah, disambut tawa dan air mata sekaligus. “Alhamdulillah, turut bahagia, ya, Cinta.”

Satu kalimat pendek yang merangkum perjalanan panjang dua sahabat, dari jalanan malam yang basah hingga podium kelulusan doktoral.

Dari lingkaran Monash Institute, penghargaan juga mengalir dari Hendra Siregar, Presiden Monasmuda Institute. Ia menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas capaian Luluk.

“Ini adalah wujud nyata dari komitmen yang selalu kami perjuangkan bersama. Menyelesaikan pendidikan hingga S3 adalah bagian dari spirit yang selalu disampaikan oleh Founder Monasmuda Institute Abana Dr. Mohammad Nasih,” ujar Hendra. “Sekarang tinggal satu tugas berikutnya: menambah dan memastikan kebermanfaatan untuk umat dan bangsa.”

Bagi Monash Institute, kelulusan Luluk bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan bukti bahwa ekosistem yang dibangun Monash Institute selama bertahun-tahun terus berbuah.

Pesan dari Pesisir

Sebelum meninggalkan Gedung Promosi Doktor, Luluk menitipkan pesan untuk mereka yang kini mungkin sedang duduk di antara jemuran terasi atau di sudut kamar kontrakan yang sempit, menimbang apakah mimpi mereka layak diperjuangkan.

“Jangan pernah membatasi mimpi kalian hanya karena melihat dompet orang tua. Selama ada peluang dan kemauan, pasti ada jalan. Pemerintah sudah menyediakan banyak fasilitas seperti BIB ini. Tugas kita hanya satu: belajar lebih keras dari orang lain, dan jangan pernah melupakan doa orang tua.”

Di Desa Bonang, angin laut masih berhembus seperti biasa. Bau terasi itu masih ada. Tapi kini, bau itu membawa nama baru yang akan diingat: Dr. Mamluatur Rahmah, dengan IPK 3,84 dari kampus yang sama yang pertama kali menerimanya sebagai mahasiswa S1 lebih dari satu dekade silam.

Dari Rembang, untuk Indonesia.

Catatan redaksi: Dr. Mamluatur Rahmah, M.Ag. adalah Disciple Monash Institute, sekarang Monasmuda Institute, angkatan 2012 dan dosen aktif di UIN Raden Mas Said Surakarta.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *