Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Mahasiswa

OTW, Kok di Rumah?

×

OTW, Kok di Rumah?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Ahmad Fahrur Rijal, Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah UIN Salatiga,
[email protected]

Example 300x600

“OTW ya.” Dua kata sederhana ini sering muncul di layar ponsel ketika seseorang ditanya keberadaannya. Mendengar jawaban tersebut, kita biasanya langsung berasumsi bahwa orang itu sudah berada di kendaraan dan sedang menuju lokasi tujuan. Namun, tidak jarang beberapa menit kemudian ia masih belum terlihat, bahkan ternyata masih berada di rumah dan baru mulai bersiap-siap.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di era komunikasi digital yang serba cepat. Kata On The Way, atau yang lebih dikenal dengan singkatan OTW, telah menjadi bagian dari budaya percakapan masyarakat. Baik dalam urusan pertemanan, organisasi, pekerjaan, maupun keluarga, istilah ini digunakan untuk memberi kabar bahwa seseorang sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Sayangnya, makna yang dipahami sering kali berbeda dengan kondisi yang sebenarnya terjadi.

Secara ideal, penggunaan kata OTW berarti seseorang telah meninggalkan lokasi awal dan sedang bergerak menuju lokasi tujuan. Informasi tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi dan estimasi kedatangan seseorang. Dengan demikian, lawan bicara dapat memperkirakan waktu dan menyesuaikan aktivitasnya.

Dalam kenyataannya, banyak orang menggunakan kata OTW meskipun masih berada di rumah—sedang mandi, memilih pakaian, mencari barang yang tertinggal, atau bahkan baru bangun tidur. Akibatnya, kata OTW tidak lagi menggambarkan keadaan yang sebenarnya, melainkan sering menjadi bentuk penundaan informasi atau cara untuk mengurangi kesan terlambat.

Dari sudut pandang komunikasi, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa seharusnya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi secara jelas dan akurat. Ketika seseorang mengatakan OTW padahal belum berangkat, terjadi ketidaksesuaian antara pesan yang disampaikan dan realitas yang ada. Dalam teori komunikasi, kondisi seperti ini dapat menimbulkan miscommunication atau kesalahpahaman, karena penerima pesan membangun ekspektasi berdasarkan informasi yang diterimanya.

Selain itu, penggunaan OTW yang tidak sesuai kenyataan dapat mengurangi tingkat kepercayaan dalam hubungan sosial. Semakin sering seseorang memberikan informasi yang tidak sesuai fakta, semakin rendah pula tingkat kepercayaan orang lain terhadapnya. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat lebih memilih menjaga citra agar tidak terlihat terlambat, dibandingkan menyampaikan kondisi yang sebenarnya.

Fenomena ini tidak selalu muncul karena niat buruk. Sebagian orang menggunakan kata OTW untuk menunjukkan komitmen bahwa mereka akan segera berangkat, sementara yang lain menggunakannya karena merasa sungkan mengakui keterlambatan. Namun, kebiasaan tersebut perlu diperbaiki dengan membangun budaya komunikasi yang lebih jujur dan transparan. Mengatakan “saya masih bersiap-siap” atau “saya akan berangkat 10 menit lagi” mungkin terdengar sederhana, tetapi informasi tersebut jauh lebih akurat dan membantu orang lain mengatur waktu serta ekspektasinya.

Pada akhirnya, masalah OTW bukan sekadar persoalan keterlambatan, melainkan persoalan kejujuran dalam berkomunikasi. Sebuah kata yang awalnya berarti “sedang dalam perjalanan” kini sering kehilangan maknanya karena digunakan tidak sesuai kenyataan. Jika komunikasi adalah jembatan kepercayaan, maka ketepatan informasi adalah fondasinya. Sebab, perjalanan yang sesungguhnya bukan hanya menuju sebuah tempat, tetapi juga menuju budaya komunikasi yang lebih jujur, bertanggung jawab, dan menghargai waktu orang lain.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *