Oleh: Robby Alam Raya
Langit Desa Mlagen sore itu bagai tembaga yang dibakar; merah keemasan yang perlahan legam di ujung cakrawala, menyisakan debu yang beterbangan diembus angin. Di serambi rumah joglo berlantai tegel kuno, Pakde Karso sedang menyesap kopi hitamnya, seolah menghitung sisa umur yang kian menguncup. Matanya yang mulai dihinggapi katarak menatap lurus ke jalanan kampung yang belum pernah merasakan bau aspal.
Tiba-tiba, suara deru motor bebek tua memecah keheningan. Suaranya batuk-batuk dan berasap, tetapi penunggangnya duduk tegak lurus bagai menunggang kuda penakluk. Seorang lelaki berhidung melengkung serupa paruh elang, mengenakan jubah putih yang melambai-lambai ditiup angin serta surban yang melilit kepalanya dengan keangkuhan yang presisi. Di boncengan motornya, sepasang keranjang sarat dengan buntalan-buntalan kain.
Pakde Karso meletakkan cangkir kopinya ke tatakan dengan bunyi thuk yang getir. Wajahnya mendadak berkerut, bukan karena silau matahari, melainkan oleh sebuah firasat yang telah berulang selama berpuluh tahun.
“Waduh, Le … bakal ana sing kena bedil maneh sore iki,” kata Pakde Karso kepada orang-orang di sekitarnya. Gumam itu lebih mirip ratapan daripada gurauan.
Kata “bedil” di mulut Pakde Karso bukanlah senapan yang memuntahkan timah panas hingga merobek dada. Bukan pula mesiu yang membakar daging. “Bedil” adalah metafora paling berdarah di kampung santri ini untuk menggambarkan sebilah lidah dan sepotong garis wajah yang mampu merobek isi dompet para petani tradisional, tanpa mereka punya kuasa untuk mengaduh. Itu adalah senapan tak kasatmata yang pelurunya bernama menjual berkah.
Lelaki di atas motor itu, beberapa dekade lalu, akrab disapa dengan sebutan Sayyid atau, dalam lidah lokal yang karatan oleh dialek Jawa, cukup dipanggil Yik. Belakangan, angin zaman membawa istilah baru yang lebih basah dan sakral di telinga awam: Habib, yang akrab dipanggil Bib. Mereka datang dengan modal wajah yang berbeda dari rata-rata penduduk kampung yang berkulit sawo matang, membawa aura magis dari tanah gersang seberang lautan yang selalu dicitrakan sebagai tanah suci.
Motor itu berhenti tepat di depan rumah Kang Muid, seorang buruh tani yang dikenal rajin berjamaah di surau dan baru saja memperoleh sedikit uang sisa panen tembakau. Kang Muid, dengan kepatuhan primordial yang telah ditanam sejak orok, langsung turun dari teras dan membungkuk sedalam-dalamnya hingga hidungnya hampir menyentuh setang motor bebek sang tamu. Baginya, melihat wajah sang Yik sama saja dengan melihat secuil surga yang turun ke bumi.
“Ahlan, Kang Muid. Ini saya bawakan minyak wangi dari Tarim, sajadah tenun khusus, dan tasbih kayu gaharu asli yang aromanya bisa mengundang malaikat ke rumahmu,” suara sang Yik mengalun, berat dan penuh penekanan yang menghipnotis.
Kang Muid menelan ludah. Ia tahu betul bahwa harga sajadah di pasar Rembang tak lebih dari lima puluh ribu rupiah. Minyak wangi curah pun tak sampai dua puluh ribu. Namun, di tangan sang tamu, barang-barang itu mengalami transmutasi spiritual.
“Ini sajadah khusus, Kang. Harganya tiga ratus ribu. Anggap saja ini bukan membeli barang, tetapi mahabbah, bukti cinta kepada cucu Kanjeng Nabi. Siapa yang mencintai keturunan Nabi, hidupnya akan dipenuhi barakah, sawahnya aman dari wereng, dan kelak di akhirat mendapat syafaat,” lanjut sang Yik. Matanya menatap tajam, mengunci pupil mata Kang Muid yang gemetar.
Di dalam rumah, istri Kang Muid mengintip dari balik kelambu kumal. Jantungnya menciut. Uang tiga ratus ribu itu adalah modal untuk membeli seragam sekolah anaknya dan pupuk musim tanam depan. Namun, ketika Kang Muid ragu dan mencoba menawar dengan suara mencicit, wajah sang Yik mendadak berubah mendung. Angin sore seolah berhenti berembus, digantikan ketegangan yang pekat.
“Sampeyan menawar berkah, Kang? Sampeyan tidak mau membeli dari cucu Nabi? Ingat, dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’ Kami ini keluarganya Nabi. Kalau sampeyan menolak kami, apa sampeyan tidak takut kuwalat? Apa sampeyan mau hidupmu seret dan mati tanpa syafaat?”
Dorr! Tembakan itu telak mengenai ulu hati kesadaran Kang Muid. Itu adalah peluru intimidasi teologis yang paling mematikan. Ditakut-takuti sebagai pembangkang keturunan Nabi merupakan vonis sosial-keagamaan yang lebih mengerikan daripada menjadi pesakitan di penjara kabupaten. Dengan tangan gemetar dan wajah pucat pasi, Kang Muid merogoh kantong celananya, menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan yang disimpannya layaknya jimat. Sang Yik menerima uang itu dengan senyum tipis yang segera hilang. Ia memberikan doa kilat yang dibaca cepat, serupa mantra pengusir nyamuk, lalu menghidupkan motornya untuk mencari sasaran “tembak” berikutnya.
Di seberang jalan, menyaksikan adegan itu, dada Ilham bergemuruh. Ilham adalah anak muda kampung itu yang baru saja menyelesaikan studinya di kota. Pikirannya yang waras, diasah oleh buku-buku logika dan sosiologi serta didasari kecintaan yang murni pada sejarah Islam, menolak mentah-mentah sandiwara eksploitatif ini. Ia tidak tahan lagi melihat kemelaratan kampungnya dipelihara dan diperas melalui mistifikasi nasab.
Malamnya, di angkringan dekat surau, Ilham berkumpul dengan anak-anak muda sebayanya. Suasana terasa hangat oleh aroma jahe, tetapi diskusi mereka berlangsung dingin dan serius.
“Sampai kapan kita membiarkan bapak-bapak kita ditembak harga oleh mereka yang menjual nama Nabi?” buka Ilham. Suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan.
“Hush, Ham! Jangan keras-keras. Bagaimanapun, mereka itu kan cucu Nabi. Kita harus hormat. Kalau tidak, ilmu kita tidak barakah,” sahut Gani, seorang pemuda yang sehari-hari mengajar mengaji anak-anak kecil. Wajahnya tampak cemas.
Ilham menggebrak meja bambu dengan pelan, tetapi bertenaga. “Gani, mari kita buka kitab sejarah dengan kepala dingin dan jernih! Mari kita ingat kembali bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ berdagang di pasar. Apakah beliau datang ke pasar lalu menakut-nakuti orang Quraisy agar membeli barangnya dengan harga tiga kali lipat sembari membawa-bawa nama kakeknya, Abdul Muthalib? Tidak!”
Napas Ilham memburu. Matanya menyala, memandang teman-temannya satu per satu.
“Nabi itu Al-Amin. Beliau berdagang dengan kejujuran tingkat tinggi. Beliau menunjukkan cacat barang sebelum pembeli bertanya. Beliau memberikan harga terbaik dengan margin yang adil sehingga pasar menaruh hormat secara organik, bukan hormat yang lahir dari rasa takut kuwalat. Nabi menciptakan ekosistem ekonomi yang memakmurkan umat, bukan yang membiarkan umat melarat lalu menghiburnya dengan untaian doa-doa kosong sementara kantong mereka dikuras habis!”
Teman-teman Ilham terdiam. Kata-kata Ilham bagai air hangat yang menyiram kepala mereka yang selama ini beku oleh dogma taklid buta.
“Mereka menuntut dicintai dengan dalil ayat Al-Qur’an,” lanjut Ilham, suaranya kini meliuk penuh retorika yang menggugah. “Mereka meminta dicintai karena jubah mereka, karena hidung mereka, karena silsilah yang tertulis di kertas. Tetapi, di mana cinta mereka kepada umat yang hidup megap-megap di rumah-rumah gedek reot ini? Ketika para petani tidak bisa menanam karena bibit mahal dan pupuk langka, di mana mereka? Ketika anak-anak kita putus sekolah karena tidak punya biaya, apakah mereka datang membawa beasiswa? Tidak! Mereka hanya datang saat panen, bertindak layaknya kolektor pajak spiritual, mengambil yang tersisa dari kemiskinan kita, lalu pergi meninggalkan kita dalam kemelaratan, dibungkus janji surga yang egois!”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ham? Kita ini cuma anak kampung,” tanya seorang pemuda lainnya, yang mulai goyah pertahanannya.
“Kita harus waras! Kewarasan adalah benteng pertama. Mulai besok, jika ada Yik atau Habib yang datang dengan metode bedil seperti itu, kita hadapi dengan sopan, tetapi tegas. Hormat kepada manusia itu wajib, tetapi tunduk pada pembodohan adalah haram. Kita katakan kepada mereka: ‘Kami mencintai Nabi dengan cara meniru akhlaknya yang jujur dalam berniaga. Jika Anda ingin berdagang, berdaganglah dengan cara Nabi, bukan dengan cara kompeni yang memakai kedok jubah suci!’”
Keesokan sorenya, seolah takdir sedang menguji tekad anak-anak muda itu, deru motor bebek sang Yik kembali terdengar. Kali ini, ia menghentikan motornya tepat di depan warung kopi tempat Ilham dan beberapa pemuda sedang berkumpul. Sang Yik turun dengan senyum kebapakan yang telah terlatih. Matanya memindai ruangan, mencari target potensial.
Ia mendekati Ilham dan mengeluarkan sebuah botol minyak wangi kecil berkilau emas dari sakunya.
“Le, ini minyak wangi khusus, wangi para wali. Hanya seratus lima puluh ribu. Beli ini untuk menghormati kakekku …”
Ilham berdiri. Postur tubuhnya tegap. Ia menatap lurus ke dalam mata sang Yik. Tidak ada ketakutan di sana, yang ada hanyalah kilat kecerdasan yang membebaskan.
“Maaf, Yik,” kata Ilham. Suaranya tenang, tetapi bergema di langit-langit warung. “Saya sangat menghormati Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah kekasih Allah, teladan agung bagi seluruh alam. Dan karena saya sangat menghormati beliau, saya tahu betul bahwa beliau tidak pernah mengajari umatnya untuk menjual minyak wangi seharga tiga puluh ribu menjadi seratus lima puluh ribu dengan cara menakut-nakuti pembelinya menggunakan nama nasab.”
Wajah sang Yik seketika mengeras. Rona merah menjalar di pipinya yang tirus.
“Kamu … berani kamu bicara begitu pada cucu Nabi? Kamu mau jadi anak durhaka yang dikutuk miskin?”
Anak-anak muda lain di warung itu sempat menahan napas. Namun, mereka melihat Ilham tetap tenang bagai batu karang di Pantai Dampo Awang.
“Yik, jika Anda adalah cucu Nabi, maka jadilah cermin dari keluhuran budi beliau. Nabi itu mencintai umatnya, melindungi yang lemah, dan menghidupkan ekonomi yang layak. Jangan gunakan nama mulia beliau sebagai bedil untuk menembak isi dompet orang-orang miskin di kampung kami. Kami siap mencintai Anda dengan setulus hati jika Anda juga mencintai kewarasan kami, bukan membiarkan kami melarat dalam kebodohan.”
Suasana hening seketika. Tembakan lidah Ilham kali ini tidak merobek, melainkan melucuti seluruh mesiu intimidasi yang selama ini menjadi senjata andalan. Sang Yik terpaku. Kalimat-kalimat logis yang meluncur dari pemuda kampung itu tidak menyisakan ruang bagi argumen cocokologi atau ancaman kuwalat yang biasa ia tebar.
Tanpa sepatah kata pun, sang Yik memasukkan kembali minyak wanginya ke dalam saku jubah, berbalik, dan melangkah cepat menuju motornya. Deru motor bebeknya kali ini terdengar tergesa-gesa. Asap tebal mengepul sebelum suara motornya hilang di tikungan jalan kampung, meninggalkan debu yang perlahan mengendap ke bumi.
Di teras joglo seberang jalan, Pakde Karso menyaksikan seluruh peristiwa itu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama hilang dari wajah tuanya. Kopi di cangkirnya kini terasa lebih nikmat, seiring dengan kesadarannya bahwa sore itu, di desa yang religius ini, tidak ada lagi bedil yang berhasil memuntahkan peluru pembodohan. Anak-anak muda telah merebut kembali kemerdekaan berpikir mereka dan menegakkan kembali esensi sejati ajaran Sang Nabi Agung.


















