Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
KolomPolitik

Kota Semarang Perlu Dimodernisasi

×

Kota Semarang Perlu Dimodernisasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.

Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Ketua DPD PAN Kota Semarang

Example 300x600

Kota Semarang adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia dan menjadi jantung Provinsi Jawa Tengah. Ia hidup dengan warisan sejarah yang sangat kaya, dan secara bersamaan juga memiliki tantangan perkotaan yang super kompleks. Selama puluhan tahun, berbagai permasalah urban, seperti rob dan banjir, penurunan muka tanah, kemacetan arus lalu lintas, dan juga limbah domestik diselesaikan dengan cara-cara konvensional yang bersifat reaktif dan tambal sulam belaka. Akibatnya, akar permasalahannya tidak pernah bisa dicabut dan dihilangkan, dan masalah yang sama muncul secara berulang.

Karena itu, Kota Semarang perlu dikelola dengan cara modern, bukan dalam arti sekadar manifestasi fisik seperti pembangunan gedung-gedung pencakar langit dan pembangunan pabrik-pabrik. Modernisasi yang dimaksud adalah meninggalkan cara-cara tradisonal yang sudah terbukti tidak efektif sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh warga Kota Semarang. Diperlukan metode baru yang relevan dengan basis ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Namun, ini bukan berarti hendak menjadikan Kota Semarang sebagai kota yang robotik dan mekanistik. Sains dan teknologi diposisi sebagai anabler bahkan akselerator untuk mewujudkan kebaikan bersama dan kebahagiaan yang merata bagi setiap warga Kota. Mereka secara keseluruhan, baik yang berada di wilayah pesisir, di bantaran sungai, maupun di lereng-lereng perbuktikan, memiliki rasa aman yang sama, akses kesehatan mudah, dan kualitas hidup yang setara dengan mereka yang tinggal di kawasan elite. Sain dan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memangkas dan menghilangkan ketimpangan yang sudah sejak lama terjadi.   

Perlu Smart Water Management

Masalah utama yang paling menghambat terwujudnya kebahagiaan warga Kota Semarang, khususnya di wilayah Semarang Utara dan Timur adalah kombinasi antara banjir rob akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah (land subsidence). Namun, yang selama ini dipilih sebagai langkah untuk menangani benar-benar sangat tradisional dan sudah terbukti tidak menyelesaikan masalah, yakni hanya dengan meniggikan tanggul dan jalan, atau menambah jumlah pompa penyedot air secara sporadis. Padahal kalau dilakukan kalkulasi, biayanya sangat mahal, hanya bersifat sementara, dan tidak selaras dengan hukum alam. Mestinya, Pemkot melakukan solusi yang bersifat integratif melalui konsep smart water management dan spong city (kota spons). Pilihan implementasinya adalah:

Pertama, bangun jaringan monitoring berbasis IoT (Internet of Things) dan AI (kecerdasan buatan). Di sepanjangan garis pantai, pintu-pintu sunga, dan saluran drainase kota harus dipasang jaringan sensor IoT. Secara real-time sensor itu mengirimkan data telemetri tentang ketinggian dan debit, juga laju sedimentasi ke pusat komando data. AI kemudian melakukan analisis data yang masuk untuk memprediksi potensi rob atau luapan sungai hingga beberapa jam sebelum kejadian. Sistem secara otomatis mengaktifkan pintu air elektrik dan mengoptimalkan kinerja pompa secara prefentif sebelum genangan sempat terbentuk di pemukiman warga.

Kedua, wujudkan infrastruktur hijau spong city. Trotoar, alun-alun, dan area parkir harus dibangun dengan semen berpori agar air hujan bisa langsung masuk ke dalam tanah. Lahan basan di pesisir harus direstorasi, harus dilakukan penanaman kembali mangrove berbasis xonasi ilmiah, dan taman retensi air juga harus dibuat. Ini di samping bisa digunakan sebagai penampung alami, juga bisa berfungsi sebagai ruang publik hijau yang bisa menurunkan tingkat stress yang dialami oleh masyarakat urban. Tentu saja, implikasinya secara bersamaan adalah meningkatkan indeks kebahagiaan warga.     

Terapkan Smart Mobility

Tanda-tanda sudah menjadi semakin kuat, bahwa Semarang akan segera menghadapi ancaman kemacetan lalu lintas. Lagi-lagi, cara-cara tradisional seperti memperlebar jalan atau membangun flayover justru memicu kecenderungan pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi. Ini harus diubah dengan skema smart mobility yang berorientasi kepada mobilitas manusia. Untuk mewujudkannya, dua hal yang bisa dilakukan untuk mengawali:

Pertama, mengintegrasikan seluruh moda transportasi publik, terutama BRT Trans Semarang dengan feedernya, melalui aplikasi seluler publik yang bisa digunakan untuk memantau jadual mobilitas. Dengan demikian, warga bisa merencanakan perjalanan multimoda untuk mendapatkan efektifitas dan efisiensi. Tidak ada lagi warga yang dipaksa untuk menunggu tanpa kepastian. Kepastian waktu yang di dalamnya tentu ada kecepatan, kenyamanan fisik, dan apalagi kalau ditambah dengan kemudahan transaksi digital, akan membuat warga secara sukarela beralih kepada kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi.

Kedua, mengganti penghitung waktu statis pada rambu-rambu lalu lintas yang memiliki arus padat. Harus digunakan teknologi computer vision pada kamera pemantau jalan, sehingga AI dapat menghitung volume kendaraan secara real-time di setiap jalur kemudian menyesuaikan durasi lampu hijau untuk meminimalkan penumpukan kendaraan pada jam-jam sibuk. Inilah gunakan teknologi modern untuk memudahkan kehidupan manusia.       

Ekosistem Sirkular Pengelolaan Sampah

Pengelolan sampai secara tradisional dengan mengandalkan metode kumpul-angkut-buang sudah benar-benar harus ditinggalkan. Penumpukan sampah tanpa pengolahan secara cepat, telah terbukti menyebabkan pencemaran air tanah, polusi udara, dan bahkan sampai kepada ledakan gas metana bahkan kebakaran yang efeknya sangat besar.  Penerapan teknologi berbasis Circular Economy (Ekonomi Sirkular) yang didukung oleh instrumen digital tak bisa ditunda-tunda lagi. Ini bahkan bisa melibatkan masyarakat. Langkahnya adalah melakukan edukasi tentang pemilahan sampai dari hulu secara akseleratif dengan memberikan insentif ekonomi. Warga dibekali aplikasi pengelolaan sampah local yang terhubungan dengan jaringan bank sampah sekotoral. Setiap sampah yang dipilah dari rumah tangga (organik, anorganik bernilai ekonomis, dan limbah elektronik) dapat ditukar dengan poin digital yang dapat dikonversi menjadi saldo dompet digital (e-wallet) atau potongan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pasti ini akan menjadi sangat menarik bagi banyak warga, dan membuat mereka akan menjadi semakin kreatif dalam menghadapi sampah.

Langkah lain adalah menerapkan teknologi waste to energy atau mengubah sampai menjadi energi. Jika untuk menjadikannya gas atau listrik terlalu rumit, sampah bisa diubah menjadi media maggot yang skalanya bisa RT atau RW. Hasilnya bisa menopang usaha-usaha rumahan seperti budidaya lele, ayam kampung, dan lain-lain usaha untuk ketahanan ekonomi keluarga.  

Langkah-langkah di atas, merupakan langkah sederhana dalam era digital sekarang dan hanya memerlukan political will saja dari elite Kota. Dari sinilah peluang besar bagi Kota Semarang untuk melompat (leapfrog) dari jebakan lingkaran setan permasalahan kota yang hanya dihadapi secara tradisional, menuju penyelesaian secara modern berbasis sains dan teknologi, yang akan lebih mengentarkan kepada kehidupan yang nyaman dan bahagia secara akseleratif. ***

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *