Oleh: Fikri Fathoni, Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah UIN Salatiga
Pernah nggak, sudah sampai di depan rumah sendiri, tapi kaki malah berhenti di teras? Duduk dulu, buka hp, scroll media sosial tanpa tujuan, menunda lima sampai sepuluh menit sebelum benar-benar masuk. Bukan karena lelah jalan, bukan juga karena menunggu hujan reda. Ada sesuatu di dalam rumah yang membuat ruang yang seharusnya paling akrab itu terasa berat untuk didekati.
Fenomena “males pulang” ini bukan cerita satu dua orang saja. Dari obrolan santai dengan teman sebaya sampai curahan hati di media sosial, banyak anak muda saat ini baik yang masih duduk di bangku SMA maupun yang sudah kuliah mengaku merasakan hal serupa. Yang membuat ini penting untuk dibahas bukan soal rumahnya secara fisik, tapi soal apa yang terjadi di dalamnya: rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru berubah menjadi tempat yang paling ingin dihindari.
Secara ideal, rumah adalah tempat pulang dalam arti yang sesungguhnya: tempat melepas lelah, tempat tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Tapi kenyataannya, sering kali begitu pintu terbuka, yang menyambut bukan pelukan atau pertanyaan ringan, melainkan deretan kritik. “Kok belum belajar?”, “Kamu itu kapan bisa kayak anak tetangga?”, atau sederet perintah yang langsung menumpuk begitu kaki menyentuh lantai rumah. padahal yang dibutuhkan anak saat itu hanya satu: waktu untuk bernapas sebentar. Belum lagi orang tua yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga kehadiran anak di rumah terasa seperti hal yang biasa saja, tidak benar-benar “dilihat”. Dari situ muncul perasaan yang sulit dijelaskan tapi nyata: merasa kurang dianggap di tempat yang seharusnya paling menerima.
Penting digarisbawahi: orang tua yang menyalahkan atau membandingkan anaknya bukan berarti tidak sayang. Dalam banyak kasus, pola itu lahir dari pola asuh yang mereka terima sendiri waktu kecil sesuatu yang diwariskan tanpa disadari. Ada juga orang tua yang sebenarnya khawatir, tapi tidak punya cara lain untuk mengungkapkannya selain lewat kritik, sebab itulah satu-satunya bahasa yang mereka kenal. Belum lagi kelelahan dan stres dari pekerjaan atau masalah rumah tangga yang, tanpa disengaja, ikut tumpah ke anak. Dalam ilmu komunikasi, ini bisa dilihat sebagai jarak antara intensi dan dampak, antara apa yang dimaksudkan orang tua (kekhawatiran, rasa sayang) dan apa yang sebenarnya diterima anak (rasa disalahkan, dihakimi). Ketika jarak ini terus dibiarkan, dampaknya bukan sekadar anak yang males pulang sesaat. Pelan-pelan, anak belajar untuk menutup diri, memilih diam daripada cerita, dan mencari rasa aman di luar rumah entah pada teman, pacar, atau bahkan pada orang asing di internet yang justru lebih sering “mendengarkan” dibanding orang tuanya sendiri. Komunikasi yang macet di rumah, kalau dibiarkan terlalu lama, bisa menjelma menjadi jarak emosional yang permanen.
Untungnya, ini bukan masalah yang harus selesai dengan perubahan besar. Cukup mulai dari mengganti kalimat kritik menjadi kalimat penasaran. “Hari ini gimana?” jauh lebih membuka pintu dibanding “Kenapa belum belajar?”. Yang pertama mengundang cerita, yang kedua langsung menutup percakapan sebelum dimulai. Orang tua bisa memberi anak waktu transisi beberapa menit sebelum bertanya soal tugas atau kewajiban, sekadar membiarkan anak melepas sepatu dan duduk dulu. Dari sisi anak, mencoba mengungkapkan kebutuhan dengan jujur juga membantu misalnya bilang, “Aku capek, boleh istirahat dulu sebentar sebelum cerita?” daripada memilih diam dan menjauh. Komunikasi yang sehat memang dua arah, dan langkah kecil dari kedua belah pihak biasanya lebih efektif daripada menunggu satu pihak berubah total.
Rumah yang nyaman bukan ditentukan oleh besar kecilnya bangunan atau lengkap tidaknya fasilitas di dalamnya, melainkan oleh rasa aman yang dibangun lewat percakapan sehari-hari sesederhana cara menyambut anak yang baru pulang. Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang paling salah, orang tua atau anak, sebab keduanya sama-sama sedang belajar berkomunikasi dengan cara terbaik yang mereka tahu. Tapi mungkin, perubahan kecil bisa mulai dari sini: lain kali pintu rumah terbuka, coba sambut dengan pertanyaan, bukan penghakiman. Karena pada akhirnya, rumah seharusnya menjadi tempat yang membuat orang ingin pulang, bukan tempat yang membuat orang menunda untuk masuk.


















