Oleh: Jihan Syahirah Maharani, Mahasiswi Prodi Manajemen Dakwah UIN Salatiga
“Bagaimana jika saya gagal?” Pertanyaan sederhana tersebut mungkin pernah muncul di benak hampir setiap mahasiswa. Namun, ketika pertanyaan itu terus berulang setiap hari dan berkembang menjadi berbagai kemungkinan negatif lainnya, seseorang dapat terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai overthinking. Kebiasaan berpikir berlebihan ini semakin sering terjadi di kalangan mahasiswa dan menjadi salah satu masalah yang memengaruhi kehidupan akademik maupun pribadi mereka.
Menjadi mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Selain harus mengikuti perkuliahan, mahasiswa juga dituntut untuk menyelesaikan berbagai tugas, mengikuti organisasi, membangun relasi sosial, serta mempersiapkan masa depan setelah lulus. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang merasa terbebani oleh banyak pikiran. Mereka memikirkan nilai yang belum keluar, tugas yang menumpuk, biaya kuliah, harapan orang tua, hingga peluang mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan studi. Akibatnya, pikiran terus bekerja tanpa henti bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.
Fenomena ini semakin diperparah oleh perkembangan teknologi dan media sosial. Saat membuka media sosial, mahasiswa sering melihat pencapaian orang lain, seperti memperoleh beasiswa, memenangkan lomba, diterima bekerja di perusahaan besar, atau berhasil menyelesaikan studi tepat waktu. Tanpa disadari, hal tersebut mendorong sebagian mahasiswa untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri dan merasa tertinggal. Perasaan tersebut kemudian berkembang menjadi kecemasan yang memicu overthinking.
Idealnya, mahasiswa merupakan individu yang mampu berpikir kritis, rasional, dan objektif dalam menghadapi berbagai permasalahan. Kemampuan berpikir kritis seharusnya membantu mahasiswa menganalisis masalah secara logis dan mencari solusi yang tepat. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan memiliki kemampuan mengelola emosi sehingga dapat menghadapi tekanan akademik maupun sosial dengan baik. Dengan kemampuan tersebut, mahasiswa dapat menjalani proses perkuliahan secara produktif tanpa dibebani oleh kekhawatiran yang berlebihan.
Namun realitas yang terjadi sering kali berbeda. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Mereka terlalu fokus pada risiko kegagalan dibandingkan peluang keberhasilan. Sebagai contoh, ketika akan melakukan presentasi di depan kelas, sebagian mahasiswa justru sibuk membayangkan dirinya melakukan kesalahan, ditertawakan teman-teman, atau mendapatkan nilai yang buruk. Padahal, hal-hal tersebut belum tentu terjadi. Pikiran yang dipenuhi berbagai skenario negatif inilah yang kemudian membuat seseorang semakin cemas dan kehilangan kepercayaan diri.
Jika dikaji melalui Teori Komunikasi Intrapersonal, overthinking merupakan bentuk komunikasi yang terjadi di dalam diri seseorang. Komunikasi intrapersonal adalah proses seseorang berinteraksi dengan dirinya sendiri melalui pikiran, perasaan, persepsi, dan refleksi. Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi intrapersonal memiliki peran penting karena membantu seseorang memahami dirinya, mengevaluasi pengalaman, serta menentukan tindakan yang akan diambil.
Pada kondisi yang sehat, komunikasi intrapersonal dapat membantu mahasiswa menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. Misalnya, ketika mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, mahasiswa dapat melakukan evaluasi diri dengan bertanya, “Apa yang perlu saya perbaiki agar hasilnya lebih baik?” Pertanyaan tersebut mendorong seseorang untuk mencari solusi dan melakukan perubahan yang positif.
Namun, pada mahasiswa yang mengalami overthinking, komunikasi intrapersonal sering berubah menjadi dialog internal yang negatif. Pikiran terus berputar pada masalah yang sama tanpa menghasilkan penyelesaian. Seseorang mungkin terus berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak cukup pintar, tidak mampu bersaing dengan orang lain, atau akan gagal di masa depan. Dialog internal yang negatif ini lama-kelamaan membentuk persepsi buruk terhadap diri sendiri dan meningkatkan tingkat kecemasan.
Dalam teori komunikasi intrapersonal juga dijelaskan bahwa cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa sangat memengaruhi respons emosionalnya. Dua mahasiswa dapat menghadapi masalah yang sama tetapi memberikan respons yang berbeda. Mahasiswa pertama mungkin melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, sedangkan mahasiswa kedua menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Perbedaan penafsiran tersebut menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi di dalam diri seseorang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologisnya.
Dampak overthinking tidak boleh dianggap remeh. Secara akademik, mahasiswa yang terlalu banyak berpikir sering mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Mereka lebih sibuk memikirkan kemungkinan buruk dibandingkan mengerjakan tugas yang ada di depan mata. Akibatnya, produktivitas menurun dan pekerjaan menjadi tertunda. Tidak jarang overthinking juga menyebabkan mahasiswa menunda mengambil keputusan karena takut melakukan kesalahan.
Selain berdampak pada akademik, overthinking juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Banyak mahasiswa yang mengalami gangguan tidur karena pikirannya terus aktif pada malam hari. Ada pula yang merasa mudah lelah, sulit fokus, dan kehilangan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jika berlangsung dalam waktu yang lama, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan berlebihan, bahkan gangguan kesehatan mental yang lebih serius.
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi kebiasaan overthinking di kalangan mahasiswa. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun komunikasi intrapersonal yang lebih sehat. Mahasiswa perlu belajar membedakan antara masalah yang dapat dikendalikan dan masalah yang berada di luar kendalinya. Fokus terhadap hal-hal yang bisa dilakukan akan membantu mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu.Selain itu, mahasiswa juga perlu melatih diri untuk berpikir lebih realistis. Ketika muncul pikiran negatif, cobalah untuk mempertanyakan apakah pikiran tersebut benar-benar berdasarkan fakta atau hanya asumsi semata. Cara ini dapat membantu seseorang melihat situasi secara lebih objektif dan tidak mudah terjebak dalam skenario terburuk yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.
Dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat penting. Teman, keluarga, maupun dosen dapat menjadi tempat berbagi cerita ketika mahasiswa merasa terbebani oleh berbagai pikiran. Terkadang, berbicara dengan orang lain dapat memberikan sudut pandang baru yang membantu seseorang melihat masalah secara lebih jernih. Jika diperlukan, mahasiswa juga tidak perlu ragu untuk mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog.
Pada akhirnya, overthinking merupakan masalah yang berawal dari komunikasi dengan diri sendiri. Ketika komunikasi intrapersonal dipenuhi oleh pikiran negatif, seseorang akan lebih mudah merasa cemas, takut, dan ragu terhadap kemampuannya. Sebaliknya, jika komunikasi intrapersonal dikelola secara sehat, mahasiswa akan lebih mampu menghadapi tantangan, mengambil keputusan dengan bijak, dan menjalani kehidupan perkuliahan secara lebih produktif. Oleh karena itu, penting bagi setiap mahasiswa untuk belajar membangun dialog internal yang positif, karena kualitas komunikasi dengan diri sendiri akan sangat menentukan kualitas kehidupan yang dijalani.
















