Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Cantik Dulu, Kenyang Nanti? Membaca Prioritas Pagi Perempuan Gen Z

×

Cantik Dulu, Kenyang Nanti? Membaca Prioritas Pagi Perempuan Gen Z

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Gressyca Borneo Anindra, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Univesitas Sebelas Maret 2025

Pukul 06.32 di depan cermin, seorang mahasiswi sibuk merapikan eyelinernya. Di meja, terdapat secangkir Energen, sementara nasi uduk bungkus akan ia makan saat jam istirahat di kampus nanti. Menurutnya, waktu berjalan begitu cepat, dan hari Senin harus dimulai dengan penampilan terbaik.

Example 300x600

Ketika Pagi Dimulai dari Wajah

Fenomena ini bukan sekadar pilihan sederhana. Membandingkan antara makan dan berdandan bukanlah hal yang mudah, karena keduanya telah menjadi bagian dari ritme hidup dan standar sosial yang terus berubah, salah satunya adalah tuntutan untuk tampil menarik di hadapan publik. Sebagian orang menjadikan makeup sebagai prioritas karena pengaruh media sosial atau tuntutan untuk terlihat lebih menarik. Alasannya pun beragam, ada yang ingin tampil lebih percaya diri dibandingkan saat di rumah, ada pula yang ingin memenuhi ekspektasi visual di media sosial, untuk mengisi feed Instagram. Namun, tidak semua orang berpikir demikian. Sebagian lainnya tetap memprioritaskan sarapan sebagai kebutuhan dasar.

Dalam budaya visual yang semakin dominan, penampilan sering kali menjadi identitas pertama yang dilihat orang lain. Orang lain jarang menanyakan “sudah makan atau belum?” justru lebih sering mendengar pujian terhadap penampilan. Hal ini menunjukkan bahwa wajah dan penampilan luar kerap menjadi fokus utama dalam interaksi sosial. Banyak individu, khususnya perempuan, memulai pagi dengan mandi dan merias wajah, ditemani secangkir kopi atau teh instan, alih-alih sarapan yang layak. Hal ini terjadi karena proses makeup membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sementara waktu pagi sering kali terbatas. Selain itu, ada juga yang tidak terbiasa sarapan karena perut belum siap menerima makanan, tidak memiliki nafsu makan, atau tidak sempat menyiapkan makanan di tengah aktivitas yang padat.

Setiap Pilihan Selalu Ada Konsekuensinya

Di balik pilihan untuk mendahulukan antara makeup dan sarapan terdapat dampak kesehatan yang sering kali dilupakan. sarapan merupakan sumber energi awal yang membantu tubuh dan otak bekerja optimal sepanjang hari. Kebiasaan ini, jika dilewatkan, dapat menyebabkan tubuh mudah lemas, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya produktivitas belajar maupun bekerja. Penelitian oleh Nutrix Jurnal menunjukkan bahwa kebiasaan sarapan memiliki hubungan dengan konsentrasi belajar mahasiswa.

Mahasiswa yang terbiasa sarapan cenderung memiliki kemampuan fokus yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak sarapan, karena tubuh memperoleh asupan glukosa yang dibutuhkan otak untuk bekerja secara optimal. Hal ini sejalan dengan kebutuhan mahasiswa yang memiliki jadwal padat, sehingga jika tidak diimbangi dengan sarapan dapat mengurangi energi di pagi hari, yang memengaruhi performa akademik maupun aktivitas sehari-hari.

Menunda makan demi berdandan juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh media sosial yang semakin membentuk standar kecantikan di kalangan Gen Z. Pada platform Tiktok dan Instagram muncul statement bahwa penampilan visual, sebagai sesuatu yang terus dipertontonkan sekaligus dinilai, seseorang yang terlihat berpenampilan rapi, memiliki kulit bersih, atau mengikuti tren makeup tertentu sering kali memperoleh perhatian lebih besar melalui like dan comment.

Kondisi ini perlahan membentuk mindset bahwa tampil menarik adalah bagian dari kesiapan menjalani hari. Saat ini media sosial berperan dalam konstruksi sosial standar kecantikan di kalangan Gen Z. Algoritma dari platform tersebut secara tidak langsung memperkuat gambaran mengenai penampilan ideal hingga gaya berpakaian yang dianggap cocok untuk kegiatan di luar rumah. Akibatnya, sebagian perempuan merasa memiliki tekanan untuk memenuhi standar visual yang terjadi di lingkungan sosial.

Dari sudut pandang teori body image, seseorang sering kali menilai dirinya berdasarkan bagaimana dia diperlihatkan kepada orang lain dalam budaya visual modern. Tubuh dan wajah tidak lagi hanya menjadi benda personal, tetapi menjadi aset sosial yang ditampilkan di ruang digital. Jadi, tidak dipungkiri jika sebagian perempuan lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk merias diri dibandingkan menyiapkan sarapan karena penampilan dianggap yang paling memenuhi rasa percaya diri dan penerimaan sosial dibandingkan sarapan. Namun jika kebiasaan terjadi terus-menerus dapat beresiko pada pola hidup yang kurang sehat karena kebutuhan intake awal tubuh manusia tidak tercukupi sehingga dapat mempengaruhi kesehatan tubuh yang berkelanjutan.

Siapa yang Menentukan Kita Harus Terlihat Siap

Meskipun perut terasa lapar dari pagi hingga menjelang siang, sebagian tetap merasa percaya diri karena penampilan yang rapi dan wajah yang tampak segar. Makeup seolah menutupi tanda-tanda kelelahan dan rasa lapar tersebut. Namun, pada akhirnya, pilihan antara makeup dan sarapan kembali pada masing-masing individu. Mereka yang sudah dewasa umumnya memahami kebutuhan tubuh mereka sendiri.

Makeup bukan hanya sekadar upaya untuk tampil menarik di media sosial, tetapi juga dapat menjadi bentuk perawatan diri (self-care) dan ekspresi identitas. Di sisi lain, sarapan tetap menjadi kebutuhan utama, karena tubuh memerlukan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.Di tengah kesibukan pagi, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi mana yang lebih penting antara makeup dan sarapan, tetapi bagaimana kita menempatkan diri di antara tuntutan untuk tampil menarik dan kebutuhan untuk tetap sehat. Sebab, tubuh yang sehat adalah dasar utama untuk menjalani hari dengan penuh energi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *