Oleh: Amanullah Ari Kusuma (Santri Pesantren Riset Nggon Ngaji)
Idul adha, tentunya hal terbesit pertama kali di pikiran kita adalah menyembelih hewan, sholat ied, keramaian, padahal didalamnya terdapat lebih dari itu. Di kalangan umat islam ataupun beberapa masyarakat non muslim pun merasakan keagungan hari raya idul adha. Dari tanggal merah yang dirasakan untuk jeda sejenak dari hari kerjanya, rehat sejenak dari hal duniawi, sampai pengalaman spiritual tersendiri untuk masyarakat muslim dari shola ied-nya.
Berbicara tentang idul adha, maka tak akan luput akan pembahasan tentang qurban, tentang makna qurban itu sendiri, tentang sisi qurban yang biasanya lepas dari kesadaran kita. Ada beberapa hal menarik yang akan penulis sajikan dalam tulisan ini.
Hari raya qurban, sebenarnya apa yang harus kita qurbankan?
Sebetulnya banyak sekali polemic tentang qurban ini, jika mencoba bertanya kepada para pequrban tentang niat mereka, tujuan mereka, tak akan ada jawaban yang benar-benar berdasar dari mereka. Memang pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu menjadi hal yang kontroversial di kalangan umat islam, bahkan jikalau ditanya tentang agama mereka sendiripun mereka mungkin kebingungan menjawab tentang apa itu islam?, kenapa mereka memilih untuk menjadi seorang muslim?, hal semacam itulah yang menjadi koreksi bagi kita sebagai seorang muslim, untuk lebih mengetahui sesuatu itu secara ontologis(realitas,inti).
Begitu juga tentang ibadah qurban ini bila ditinjau dari etimologis berasal dari Bahasa arab “qaraba” yang berarti dekat, yaitu mendekatkan diri kepada allah. Walaupun dalam syariat islam qurban lebih dikenal dengan istilah “udhiyah” yang berarti penyembelihan binatang qurban setelah melaksanakan salat idul adha, “udhiyah” adalah sebutan untuk binatang ternak seperti unta, sapi, domba, dan kambing.
Realita hari ini menjadi hal yang berkebalikan dari makna qurban itu sendiri, dimana ibadah qurban bukan sesuatu hal spiritual, melainkan menjadi symbol kemewahan, menjadi suatu ajang kemegahan, ibarat kata tambah 1kg bobot hewan qurban tambah juga 1kg kadar kesombongannya, dikemanakan goal dari makna mendekatkan diri kepada allah itu? Apakah andil tuhan juga sampai pada 1kg kesombongan yang mereka perbesar sesuai tambahnya 1kg berat hewan qurban mereka?
Dari sini saya mengajak para pembaca untuk kembali merenungi hal-hal yang telah kita lakukan secara sadar ataupun dibawah sadar, tentang tindakan kita dalam beragama, apakah kita hanya mewarisi suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh orang tua kita, apakah tindakan senam lima kali sehari hanya sebagai gerakan penyegaran badan atau ada nilai yang dijunjung didalamnya, apakah qurban yang akan kita lakukan besok ini adalah suatu penyembelihan hewan belaka atau memang penyembelihan ego dan pembebasan diri dari belenggu fanatic duniawi seperti yang telah dicontohkan para utusan terdahulu.
Kritik terbuka dan refleksi untuk kita
Meminjam kata dari seorang dari tokoh pembaharu pemikiran dan teolog islam dari mesir yakni Muhammad Abduh, tentang das sollen das sein dari ajaran islam dan kenyataannya di lapangan, yaitu “aku pergi ke dunia barat dan melihat islam, tetapi tidak melihat muslim. Sebaliknya ketika aku di dunia timur, aku melihat banyak muslim tetapi tidak melihat islam” bisa ditangkap hal tersebut juga terjadi di lingkungan kita.


















