Oleh: Said Kosim*
Banyak yang berpikir ini terdengar terlalu kasar. Sejujurnya, kebanyakan orang lebih suka hidup tanpa konflik, tanpa perdebatan, tanpa penolakan. Saat ini, “disukai oleh semua orang” hampir menjadi ukuran kesuksesan sosial. Tetapi jika kita melihat lebih dalam, seseorang yang tidak pernah memiliki lawan mungkin bukan karena mereka terlalu baik. Mereka hanya tidak pernah memperjuangkan sesuatu yang bermakna.
Dalam kehidupan sosial, membela nilai-nilai hampir selalu menciptakan gesekan. Mereka yang tetap diam lebih aman daripada mereka yang berbicara. Mereka yang mengikuti arus lebih mudah berbaur daripada mereka yang mempertanyakan status quo. Jadi memiliki musuh tidak selalu merupakan tanda kegagalan, seringkali itu adalah harga dari keberanian untuk mengambil sikap.
Kita dapat melihat ini di banyak bidang kehidupan. Mahasiswa yang mengkritik kebijakan kampus sering dicap sebagai pembuat onar. Aktivis yang berbicara menentang ketidakadilan dipandang sebagai pengganggu stabilitas. Bahkan di antara teman-teman, mereka yang jujur seringkali kurang disukai daripada mereka yang mencoba menyenangkan semua orang. Begitulah kenyataannya: kebenaran tidak selalu membuat seseorang populer.
Namun, memiliki musuh bukan berarti kita harus mencari konflik. Ada perbedaan besar antara memperjuangkan prinsip dan sekadar menikmati sikap yang bertentangan. Orang dewasa tidak membenci perbedaan pendapat, tetapi mereka juga tidak akan mengorbankan nilai-nilai mereka hanya untuk disukai oleh semua orang.
Masalahnya saat ini adalah banyak orang takut kehilangan pengakuan sosial. Kita hidup di era di mana opini diukur berdasarkan jumlah suka daripada kedalaman pemikiran. Akibatnya, banyak orang bersikap netral dalam segala hal. Mereka takut terlihat kasar, dikucilkan, atau dicap dengan berbagai cara. Tetapi terlalu sibuk menjaga kenyamanan sosial dapat membuat seseorang kehilangan keberanian moralnya.
Sepanjang sejarah, hampir setiap perubahan besar berasal dari orang-orang yang memiliki “musuh.” Tokoh-tokoh yang melawan kolonialisme dibenci oleh pihak berwenang. Jurnalis yang mengungkap korupsi ditentang oleh mereka yang berkuasa. Bahkan para pemikir dan ilmuwan sering ditolak pada zamannya karena ide-ide mereka mengganggu tatanan lama. Jika mereka memilih keamanan dan keheningan, perubahan mungkin tidak akan pernah terjadi.
Di sisi lain, musuh juga bisa menjadi tanda bahwa perjuangan kita masih hidup. Selama seseorang memegang prinsip, selama mereka bersedia membela apa yang mereka yakini benar, akan selalu ada orang yang tidak setuju. Dan itu wajar. Dunia tidak dibangun hanya dari satu perspektif saja.
Yang sebenarnya berbahaya adalah ketika seseorang kehilangan keberanian untuk memperjuangkan apa pun. Mereka hanya hidup untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Tanpa keyakinan, tanpa pendirian, dan pada akhirnya tanpa makna dalam perjuangan mereka sendiri. Hidup menjadi hanya upaya untuk disukai oleh semua orang, bahkan jika itu berarti mengorbankan kejujuran terhadap diri sendiri.
Jadi, memiliki musuh tidak selalu buruk. Terkadang itu adalah bukti bahwa kita pernah mengambil sikap, mengatakan “tidak” pada apa yang salah, atau membela sesuatu yang kita yakini penting. Musuh adalah konsekuensi dari pilihan, dan pilihan adalah tanda bahwa seseorang benar-benar hidup dengan kesadaran.
Pada akhirnya, yang perlu kita pertahankan bukanlah bagaimana menghindari memiliki musuh, tetapi apakah perjuangan kita tetap berada di jalan yang benar. Karena musuh yang berasal dari kesombongan berbeda dengan musuh yang berasal dari prinsip. Yang pertama berasal dari ego, sedangkan yang kedua berasal dari keberanian moral. Mungkin tidak semua orang akan menyukai kita. Tetapi selama kita memiliki alasan yang jujur untuk diperjuangkan, itu jauh lebih penting daripada hidup tanpa arah hanya untuk diterima oleh semua orang.
*Said Kosim (Raden Saett) adalah seorang penulis, penyair, dan aktivis sosial kelahiran Pekalongan, 22 Desember 2003. Merupakan mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Karya-karyanya telah menghiasi berbagai platform media digital.
“Terkadang memiliki musuh berarti Anda benar-benar telah berjuang untuk sesuatu.”


















